nyamuk

Zika Mungkin Tiba

nyamuk

Penyakit ‘Baru’ Zika Virus

Dr Achmad Budi Karyono

Beberapa hari terkhir ini dunia diheboh oleh munculnya virus ‘baru’, Zika virus. Memang pembicaraan Zika virus belum meluas di negeri tercinta ini, namun justru dunia kesehatan internasional banyak mengabarkan secara luas. Sampai CDC (Centre of Desease Control and Prevention) menerbitkan travel warning ke beberapa negara yang dianggap endemik adanya virus ini. Sebenarnya virus ini tidak jauh dari virus penyebab DBD atau Cikungunya, tetapi yang lebih menghebohkan adalah dampak infeksi dari virus ini apabila terpapar pada ibu yang sedang hamil. Akibat yang tidak dikehendaki adalah bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi virus ini saat hamil, akan mengalami microcephaly, ukurang otak yang kecil karena tidak berkembang di dalam kandungan. Sehingga sangat ‘merusak’ masa depan masyarakat dunia.

 

Virus Zika adalah sejenis virus penyebab demam berdarah ataupun virus penyebab cikungunya, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes. Pada manusia, hal itu menyebabkan sakit ringan yang dikenal sebagai demam Zika atau penyakit Zika, yang sejak tahun 1950an telah diketahui terjadi di daerah khatulistiwa dari Afrika ke Asia. Pada tahun 2014, virus menyebar ke arah timur melintasi Samudera Pasifik, sampai ke pulau pulau kecil dan pada tahun 2015 ke Amerika Tengah, Karibia, dan Amerika Selatan, di mana wabah Zika telah mencapai tingkat pandemi. Penyakit ini seperti bentuk ringan dari demam berdarah, seakan hanya perlu istirahat, tidak dapat dicegah dengan obat-obatan atau vaksin.

 

Sejak April 2015, sebuah wabah virus Zika yang sedang berlangsung dimulai di Brazil telah menyebar ke Selatan dan Amerika Tengah serta Karibia. Pada bulan Januari 2016, CDC mengeluarkan peringatan perjalanan level 2 bagi orang-orang yang bepergian ke daerah dan negara tertentu di mana penularan virus Zika sedang berlangsung. Badan ini juga menyarankan bahwa wanita yang berencana akan hamil harus berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum bepergian, terutama ke negara tersebut. Pemerintah atau lembaga kesehatan beberapa negara seperti dari Inggris, Irlandia, Selandia Baru, Kanada dan Uni Eropa, akan segera mengeluarkan peringatan perjalanan yang sama. Di Kolombia, Menteri Departemen Kesehatan dan Perlindungan Sosial, menganjurkan untuk menghindari kehamilan selama delapan bulan kedepan, sedangkan negara-negara Ekuador, El Salvador, dan Jamaika telah mengeluarkan peringatan serupa.

 

Sebernarnya penyakit ini tidak seberapa menakutkan dan mematikan, namun yang paling dikhawatirkan adalah efek jejas jangka panjangnya bagi generasi berikutnya. Hal inipun kalau terpapar pada ibu hamil, karena dalam penelitian pada 2015 virus Zika terdeteksi dalam cairan ketuban dari dua janin, menunjukkan bahwa itu sudah melewati plasenta dan dapat menyebabkan infeksi janin. Pada  Januari 2016 ini, para ilmuwan dari negara Brasil, mendeteksi materi genetik dari virus Zika dalam plasenta dari seorang ibu yang telah menjalani aborsi karena janin mengalami microcephaly, yang menegaskan bahwa virus ini mampu melewati plasenta.

Gejala umum dari infeksi virus Zika adalah sakit kepala ringan sampai berat, kulit memerah seperti bagag, demam, lemas, mata merah, dan nyeri sendi. Kasus pertama yang terdokumentasi infeksi virus Zika ditemukan pada tahun 1964, itu dimulai dengan sakit kepala ringan, dan berlanjut ke kulit yang memerah seperti gabag, demam, dan nyeri punggung. Dalam waktu dua hari, warna kulit mulai memudar, dan dalam waktu tiga hari demam menurun dan hanya kulit memerah saja. Sejauh ini, demam Zika merupakan penyakit yang relatif ringan, dengan hanya satu dari lima orang mengalami komplikasi, tanpa korban jiwa, namun potensi yang sebenarnya sebagai agen virus penyakit tidak diketahui.

Pada tahun 2016 ini belum ada vaksin atau obat pencegahan yang tersedia. Gejala dapat diobati dengan parasetamol, sedangkan obat anti nyeri harus digunakan hanya ketika demam berdarah dengue telah dikesampingkan untuk mengurangi risiko perdarahan.

Dampak dari infeksi virus Zika yang terjadi selain pada ibu hamil, ditemukan pada penyebaran penyakit itu pada kepulauan Polinesia. Dalam epidemi di kepulauan Polinesia Perancis, 73 kasus sindrom Guillain-Barré dan kondisi neurologis lainnya terjadi dari populasi 270.000, yang mungkin merupakan komplikasi dari virus Zika. Sehingga beberapa negara Uni Eropa sangat ketat melakuakan traver warning ke dan dari daerah epidemi.

Apakah di negara kita Indonesia belum terpapar atau mungkin juga sudah namun terdeteksi sebagai  demam berdarah atau cikungunya, masih belum ada informasi. Karena ketiga penyakit tersebut memang dari jenis keluarga virus yang sama, dengan gejala yang mirip pula, serta penanganan yang serupa.

Yang penting kita semua harus selalu waspada pada cara mencegahnya, sama persis kalau kita melakukan pencegahan terhadap demam berdarah. Pencegahan ini tidak bisa hanya kita limpahkan kepada Pemerintah saja, tetapi kita sebagai masyarakat harus berpartisipasi melakukan bersama. Tidak perlu menunggu musim demam berdarah tiba, seharusnya setiap saat kita harus tetap melakukan 3M plus plus plus, agar lingkungan kita selalu terjaga higienis. Semoga kita selalu sehat.

 

*) Sie Pengabdian Masyarakat IDI Cab Bojonegoro.