Bojonegoro : Gerakan Desa Sehat dan Cerdas

GERAKAN DESA SEHAT CERDAS (GDSC), HARAPAN, TANTANGAN, dan ALTERNATIF SOLUSI

Oleh : Ns.Sudalhar,M.Kep.*)

Bojonegoro dengan gerakan desa sehat dan cerdas (GDSC) telah berupaya melakukan pelayanan kesehatan yang paripurna. Mulai dari pelayanan kesehatan dasar di setiap desa dengan berdirinya pondok kesehatan desa (ponkesdes) sampai pelayanan pasien rawat inap dengan jamkesda dan JKN. Disamping itu beberapa desa juga terdapat puskesmas pembantu. Upaya ini dilakukan demi tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang optimal dan perilaku hidup sehat dengan 8 parameter : ODF, sanitasi non ODF, angka kematian ibu dan angka kematian balita, balita kurang gizi, lantai rumah kurang sehat, lingkungan sehat, kepesertaan JKN, dan kepesertaan KB.

Mencermati tujuan dan indikator GDSC, maka penggalian data diperlukan untuk mengidentifikasi masalah, kemudian menetapkan perencanaan yang akan di koordinasikan lintas sektor, eksekusi program , pelaporan dan monev serta reward and punishment.
Semua tugas tersebut sangat mungkin dilaksanakan oleh petugas kesehatan yang berada di desa yang tergabung dalam ponkesdes terdiri dari perawat dan bidan.
Perawat bisa melakukan comunity health nursing (CHN) bahwa petugas datang ke masyarakat melalui komponen terkecil yaitu keluarga. Petugas akan memberikan asuhan keluarga senada jargon SAGASIH (sapa keluarga dengan kasih) dengan cakupan kegiatan pada ODF, sanitasi, pemberdayaan JKN, posyandu lansia dan posyandu balita, kunjungan pada kelompok khusus dan lintas sektor, perawatan keluarga pada pasien dengan penyakit kronis, terminal  dan resiko tinggi (TB, HIV,kusta, Diabet, Stroke, lansia dengan penyakit penyulit,gangguan jiwa). Sementara bidan bisa lebih aktif pada pelayanan ibu hamil resiko tinggi (bumil resti), ibu nifas dengan resiko tinggi (bufas resti)dan balita resiko tinggi (balita resti).

Masalah menjadi muncul karena tugas pelayanan kesehatan di desa menjadi komplek. Tenaga Kesehatan (nakes) di ponkesdes harus melayani pasien yang datang ke ponkesdes meliputi pemeriksaan dan pengobatan dasar, edukasi dan konseling pasien, pengelolaan obat, pemeliharaan sarana, dokumentasi dan pelaporan program lansia, LB1, penggunaan obat, CHN, kes jiwa, kes Gigi dan mulut, olah raga, HIV, TBC, Kusta, DBD, KLB, Kohort ibu, kohort anak , PCARE, dll. Bahkan para nakes dibawah naungan Puskesmas yang melayani pasien rawat inap masih harus melaksanakan tugas dinas shift di puskesmas induk. Semua tugas administratif yang menyita banyak tenaga, waktu dan fikiran bahkan beberapa catatan dan pelaporan dengan isi yang kadang sama, dalam buku dan program yang berbeda berdampak pada potensi nakes untuk lebih optimal mengerjakan pelayanan CHN melalui SAGASIH menjadi berkurang, ini semua adalah tantangan.

Alternatif solusi yang kami tawarkan dengan

1. Sistem pelaporan yang sederhana dan terpadu dari beberapa program yang berkaitan.

2.Sistem informasi desa yang berbasis IT yang memuat data dan indikator kesehatan.

3.Tenaga perekam medis dan informasi kesehatan yang mengeloala sistem informasi dan pelaporan.

4. Alokasi pembiayaan kesehatan dari APBDesa maupun APB Daerah mengingat kesehatan adalah hajat hidup orang banyak.

5. Intensifikasi Monitoring dan evaluasi antara Puskesmas dan pemdes dalam mengawal program kesehatan

6.Konsistensi dari semua pihak dalam melaksanakan niat baik.

Semoga bermanfaat. Semoga kita selalu sehat.

*) Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Bojonegoro (STIKES Maboro)