Bojonegoro Dipimpin Dengan Hati, Bukan Dengan Kekuasaan

Event International Workshop on Innovation Governance in Indonesia

UI Depok, 30 Maret 2016, Kang Yoto (Bupati Bojonegoro) menjadi pembicara pada sesi Reformasi Birokrasi dan Tumbuhnya Inovasi (pembelajaran pelayanan publik dari Bojonegoro). Bersama para pakar dari UI, UGM dan Univ Canberra Australia dengan audience ratusan civitas academica UI, UGM, dan peserta umum dari Dalam dan Luar Negeri.

Sebagai prolog Kang Yoto membagi pengalaman yang diawali dengan Filosofi, ‘Reformasi dan Inovasi dalam pelayanan rakyat, Inovasi itu akibat, Reformasi itu jalan, Pelayanan terbaik itulah Ruhnya’. Kang Yoto menguraikan bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan sll berorientasi kepada rakyat, maksudnya kami layani mereka, kami lindungi mereka, kami beri pencerahan kepada mereka, kami berdayakan mereka, kami mendengar dan kami bekerja bersama mereka, kami gunakan semua alat dan sumberdaya untuk pembangunan berkelanjutan. Mengapa kami membutuhkan inovasi? Alasan obyektif, masalah yang besar, tantangan yang besar dengan keterbatasan sumber daya manusia, biaya, waktu, tekanan publik dan spirit  masa depan untuk semua.

Bojonegoro dengan anugrah sumber daya yang dimiliki dengan segala potensinya juga memiliki tantangan yang besar terutama pada tahun 2008 diawal pemerintahan Kang Yoto antara lain persentase penduduk miskin lebih dari 28%, infrastruktur terutama jalan ke kecamatan dan desa  yang sangat rusak dan permasalahan sosial ekonomi di masyarakat. Sejak tahun 2008 Bojonegoro mulai melaksanakan pembangunan terarah dan fokus dan terus berbenah secara bertahap. Kami belajar dari kesalahan untuk segera melakukan inovasi berbasis rakyat, segera mengimplementasi dengan tepat. Kesalahan itu terutama terkait

  1. Kesenjangan antara yang diperintahkan dengan outputnya.
  2. Jebakan nomenklatur pada program.
  3. Budaya/ zona nyaman pada Aparat, Pejabat/PNS.
  4. Mengancam, memecat tidak selamanya efektif.

Selanjutnya untuk mewujudkan inovasi dengan cara menyelesaikan semua permasalahan

  1. Memastikan solusi problem rakyat sebegai orientasinya.
  2. Mendobrak jebakan zona nyaman.
  3. Reorentasi pembangunan.
  4. Transformasi dari selfish ke service.
  5. Tetapkan jangan katakan tidak mungkin, jangan complain, jangan katakan tidak ada uang, jangan korupsi.

Bagaimana partisipasi publik dapat melaksanakan dan meningkatkan inovasi? Mekanisme lebih efektif dengan 4D, Direct than represent, Dialogic than debate, Distribute secara adil, Digital untuk mempercepat proses.

Beberapa cara yang ditempuh

  1. Mendekatkan jarak kebijakan dengan problem rakyat.
  2. Memastikan hubungan input, proses dan kebijakan.
  3. Menjaga budaya inovatif, transparansi, keterbukaan, management reviews dll.

Hasil yang diharapkan ada perubahan besar, peningkatan pengetahuan, peningkatan keahlian, belajar bersama dan pembangunan berkelanjutan. Hasilnya saat ini Bojonegoro berhasil keluar dari kesulitan, membangun secara  inklusif ( rakyat bisa berperan bersama sebagai subyek pembangunan) dan Bojonegoro merasakan pembangunan social dan ekonomi. Pembangunan inklusif dan berkelanjutan sesuai indikator Gini Ratio 0,24. Pertumbuhan ekonomi yang positif meningkat, peningkatan kualitas hidup dan penyediaan lapangan kerja ditunjukkan dari  variabel menurunnya penduduk miskin dibawah 14 % dan tingkat pengangguran terbuka menurun manjadi 3,10 % dan banyak indikator positif lainnya. Bojonegoro  siap menuju era SDGs Lesson to learn ( pembelajaran)

  1. Pengakuan dan kejujuran atas keadaan yang sebenarnya modal kita untuk meraih hidup yang lebih baik.
  2. Kami sangat percaya kunci dari semua penyelesaian masalah adalah manusia yang sehat, cerdas, produktif dan bahagia.
  3. Tidak ada keberhasilan tanpa sinergitas ketika ada pihak yang dikalahkan.
  4. Kekuatan itu pada kita.
  5. Kami percaya, inovasi itu akibat, reformasi itu jalan, pelayanan terbaik itu ruhnya, menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi sesama manusia dan planet itulah tujuannya. Dan percaya atau tidak, keterbatasan itulah cambuknya, fleksibilitas itulah anginnya.

Itulah kunci keberhasilan Bojonegoro yang dipimpim dengan hati, bukan dengan kekuasaan, sehingga tidak ada jarak diantara sesama dan bahagia bersama. Semoga kita selalu sehat.