Peduli Autis : Deteksi Dini

Hari Kesadaran Autis Sedunia

Kita kayaknya sudah hampir terbiasa mendengar kata autis, sebutan untuk beberapa balita kalau sedang ditengah komunitas beberapa ibu muda. Dan beberapa dari kita sudah banyak yang faham tentang  autis. Hari ini 2 April ditetapkan sebagai hari peduli autis sedunia atau World Autism Awareness Day oleh masyarakat internasional, agar kita lebih care terhadap penyandang autis. Bukannya mengistimewakan, namun justru menggugah kepedulian yang sama dengan masyarakat umum dengan pemahaman tertentu. Oleh karena itu kita perlu sedikit mengetahui tentang autis.

Autis merupakan kelainan perkembangan sistem saraf (Pervasive Development Disorder) pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas yang terkadang bisa dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Deteksi dan terapi sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan dirinya dengan yang normal. Namun terkadang terapi harus dilakukan seumur hidup, walau demikian penyandang autis bisa cukup cerdas, setelah mendapat terapi autis sedini mungkin, seringkali dapat mengikuti sekolah umum, menjadi sarjana dan dapat bekerja memenuhi standar yang dibutuhkan, tetapi pemahaman dari rekan selama bersekolah dan rekan sekerja seringkali dibutuhkan, misalnya tidak menyahut atau tidak memandang mata si pembicara, ketika diajak berbicara. Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan orang lain.

Gejala autis dapat muncul pada anak mulai dari usia tiga puluh bulan sejak kelahiran hingga usia maksimal tiga tahun. Penderita autis sering mengalami masalah dalam belajar, berkomunikasi, dan penguasaan berbahasa. Seseorang dikatakan menderita autis apabila mengalami satu atau lebih dari karakteristik kesulitan dalam berinteraksi sosial secara kualitatif, kesulitan dalam berkomunikasi secara kualitatif, menunjukkan perilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan saraf yang terlambat atau tidak normal.

Kelainan autis empat kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibandingkan anak perempuan. Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 100.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun. Sedangkan prevalensi penyandang autis di seluruh dunia pada tahun 2011 adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autis, angka yang cukup tinggi dan memerlukan perhatian serius. Begitu pentingnya komunitas batita, sehingga pengsuh PAUD seharusnya dipegang para ahli, bukan sekedar pekerjaan batu loncat atau mengisi kekosongan. Sehingga bisa benar benar mensortir autis sedini mungkin. Mungkin lebih tepat bila kemudian disarankan agar mempertimbangkan bisa menilai perkembangan awal anak, penampilan anak, mobilitas anak, kontrol dan perhatian anak, fungsi-fungsi sensorisnya, kemampuan bermain, perkembangan konsep-konsep dasar, kemampuan yang bersifat sikuen, kemampuan musikal, dan lain sebagainya yang menjadi keseluruhan diri anak sendiri.

Anak dengan autis dapat tampak normal pada tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan dari panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autis adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.

Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autis beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun. Tetapi yang paling harus diwaspadai dan sudah mengarah ke autis dan bisa dipakai sebagai pedoman bagi siapapun untuk penemuan autis secara dini

  1. Anak tidak bergumam atau membisu hingga usia 12 bulan
  2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural atau gerak tubuh (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
  3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
  4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
  5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu

Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autis tetapi karena karakteristik gangguan autis yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara lintas sektor neurolog, psikolog, pediatrik, terapi wicara dan profesi lainnya yang memahami persoalan autis.

Hingga kini apa yang menyebabkan seseorang dapat menderita autis belum diketahui secara pasti. Riset-riset yang dilakukan oleh para ahli medis menghasilkan beberapa dugaan mengenai penyebab autis. Dua hal yang diyakini sebagai pemicu autisme adalah faktor genetik atau keturunan dan faktor lingkungan seperti pengaruh zat kimia dalam hal ini merkuri.

Keberlanjutan terapi perilaku pada anak dengan autis merupakan hal penting, namun persoalan- mendasar yang ditemui di Indonesia menjadi sangat krusial untuk diatasi lebih dahulu. Tanpa mengabaikan faktor-faktor lain, beberapa fakta yang dianggap relevan dengan persoalan penanganan masalah autis di Indonesia di antaranya adalah:

  1. Kurangnya tenaga terapis yang terlatih di Indonesia.
  2. Belum ada atau masih kurangnya petunjuk terapi yang formal di Indonesia.
  3. Masih banyak kasus-kasus autis yang tidak terdeteksi secara dini sehingga ketika anak menjadi semakin besar maka semakin kompleks pula persoalan intervensi yang dihadapi orang tua.
  4. Belum terpadunya penyelenggaraan pendidikan bagi anak dengan autis di sekolah.
  5. Minimnya pengetahuan baik secara klinis maupun praktis yang didukung dengan validitas data secara empirik dari penanganan masalah autisme di Indonesia.

Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autis. Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi Terapi Wicara, Okupasi Terapi dan Applied Behavior Analisis untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.

Peran orang serta kesabaran dan pemahaman seluruh anggota keluarga sangat penting dalam ‘menyembuhkan’ autis ini. Memang para ahli masih terus mengembangkan terapi serta berusaha untuk mengurangi angka kesakitan autis ini, anggota keluarga dekat sangat menentukan keberhasilan terapi ini. Semoga hari peringatan ini benar benar sebagai semangat untuk bangkitnya menghindar  serta menyudahi autis ini. Semoga kita selalu sehat.