From Selfish To Service

Bupati Bojonegoro: Tujuan SDG’s Ada dalam Al-Quran
KULIAH Tamu Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (9/4) di UMM Inn mengundang tamu istimewa. Bupati Bojonegoro, Suyoto, hadir di sela-sela kesibukannya memimpin kota yang terkenal dengan kerajinan mebel kayu jati ini.
Di hadapan 200 mahasiswa FAI, Suyoto yang pernah menjadi ketua Lembaga Studi al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) UMM ini mengungkap ‘Peran Agamawan Dalam Pembangunan Berkelanjutan’. Menurut bakal calon DKI-1 ini, agamawan adalah mereka yang melayani masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Dalam SDG’s (Sustainable Development Goals), agamawan punya peran dalam kemitraan global antar semua sektor, baik pemerintah maupun masyarakat dalam pelaksanaan SDG’s,” ujar Kang Yoto, sapaan akrabnya.
Ia melanjutkan, sedikitnya ada 17 tujuan SDG’s yang kemudian diringkas menjadi sembilan prioritas pembangunan Nawa Cita. Ke-17 tujuan SDG’s itu di antaranya menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan, serta kualitas pendidikan.
Tujuan-tujuan SDG’s ini, kata Kang Yoto, sudah ada sebelumnya di dalam Al-Quran. Ia mencontohkan, perintah menghapus kemiskinan sudah ada dalam Surah Al-Baqaroh ayat 155. “Dalam suatu hadits, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang diriwayatkan dari Bukhari, ‘Tidak patut dinamakan orang yang beriman, orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya yang berada di sampingnya menderita lapar, padahal ia mengetahuinya’. Perintah menghapus kelaparan yang ada dalam SDG’s sebelumnya sudah diperintahkan oleh Nabi SAW,” jelasnya.
Karena itu, lanjut Kang Yoto, pemimpin yang juga seorang agamawan, harus punya strategi dan melakukan pendekatan melalui agama dan budaya secara tepat. “Inilah yang dinamakan dakwah kultural yang bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Bojonegoro telah berusaha mempersiapkan pembangunan inklusif yang berkelanjutan ini. Dan Bojonegoro telah mencanangkan tanggal 22 Maret 2016 yang lalu, siap melaks SDGs. Agamawan baik dengan model spiritual maupun ritual, sebagai penjaga etika, krn khususnya didalam di Al Qur’an, semua aspek terkait Pembangunan ada. Dan atas pengalaman pribadi KY di Bojonegoro yang juga sebagai spiritual leader, telah melewati sebagai penjaga etika berperan lebih luas, dengan menerapkan 4D Direct, Dialog, Distributive, Digital. Sehingga tercipta prinsip dari selfish to service, dari rigit to move, dari tahkim to learner, dari past orientation to present and future orientation. Dalam hal ini juga terdapat hambatan- hambatan yang harus dihadapi seperti consumer mentality, looser dan masih banyak lagi. Tapi yakinlah keberhasilan akan datang. Spiritual leader harus menguasai permasalahan dan kompeten agar sukses berjualan dgn karya yg sukses.
Sementara Dekan FAI UMM, Faridi, berpesan kepada mahasiswa untuk belajar dari pengalaman Suyoto yang memulai karir dari nol. “Suyoto ini jadi bupati kan tidak instan, perlu proses. Dan proses itu didapatkan dari organisasi, jadi belajarlah dari pengalaman beliau,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Panitia kuliah tamu, Baiturrahman, berharap dari acara ini, mahasiswa tidak memaknai Islam dari segi simbolik belaka, namun untuk membangun peradaban. “Kami ini kan calon-calon agamawan, jadi memandang Islam ya sebagai rahmatan lil alamin,” pungkas mahasiswa Tarbiyah angkatan 2014 ini.
Itulah salah satu tebaran dari Bojonegoro untuk seluruh negeri dalam bidang apapun dan selalu memberikan manfaat untuk seluruh masyarakat, dengan harapan semua agamawan tergugah sebagai penyejahtera rakyat sepenuhnya, from selfish to service. Semoga kita selalu sehat.
Sumber : @RJIndonesia dan UMM