‘Manasik’ Kesehatan Haji 11

Haji Gelombang Dua

Oleh : dr achmad budi karyono

Beberapa hari yang lalu KeMenAg Jawa Timur sudah melakukan qur’ah terkait pemberangkatan jamaah haji seluruh Kabupaten di Jawa Timur tertanggal 23 Mei 2016, dan insyaAllah Kabupaten Bojonegoro dengan 617 jamaah diberangkatkan pada gelombang ke dua. Dengan ketentuan seperti itu, maka mulai dari sekarang harus lebih menyiapkan fisik yang lebih prima, terkait masuk dalam jamaah gelombang dua.

Kesiapan fisik calon jamaah gelombang dua harus lebih prima, karena aktifitas jamaah terus menerus seakan tiada waktu untuk beristirahat, dan sudah berpakaian ihrom.

  1. Sejak belum berangkat para jamaah sibuk menyiapkan diri dan melayani tamu siang malam yang terkadang kurang bisa istirahat
  2. Saat keberangkatan, seharian para jamaah mengikuti berbagai kegiatan, mulai persiapan pemberangkatan dirumah, diperjalanan, di KBIH, di Kabupaten. Kemudian menuju asrama haji, penjelasan di asrama haji yang cukup memakan waktu, seusai itu baru bisa ‘istirahat’, walau selama di asrama haji suasana kurang memungkinkan untuk istirahat
  3. Sekitar 20 jam sejak kedatangan para jamaah sudah harus siap untuk keberangkatan ke bandara, dan langsung berangkat terbang sekitar 10 jam
  4. Sesampai di bandara KAA Jeddah mengikuti pemeriksaan imigrasi setempat selama 2 – 4 jam bahkan ada yang lebih lama, mencari bagasi dan menunggu bis
  5. Mengendarai bis ke Mekah sekitar 90 km dan langsung menuju pondokan/hotel untuk sekedar menurunkan barang bawaan yang diawali pembagian kamar sampai persiapan umroh, dan sepertinya tidak bisa beristirahat
  6. Melaksanakan Umroh ke Masjidil Haram yang sebagian besar jamaah belum memahami situasi. Oleh karena itu pada hari pertama ini para jamaah benar benar harus ‘patuh’ pada pimpinan dan harus selalu bersama, setelah itu baru kembali ke pondokan

Rangkaian kegiatan yang sedikitnya selama 4 hari diatas itulah yang harus dicermati oleh para jamaah agar bisa mengatur strategi menyisihkan waktu untuk istirahat dan tidak memboroskan stamina. Apalagi saat tiba di Mekah suasana sudah penuh jamaah dari berbagai negara yang sering membuat jamaah merasa ‘bingung’, ditambah lagi sebagian besar para jamaah masih belum mengenali lokasi pondokan, suasana Masjidil Haram, arah keduanya, jarak keduanya serta bagaimana cara mencapainya. Semoga sebelum keberangkatan nanti sudah ada informasi mengenai lokasi pondokan, dan dengan menggunakan peta di smartphone para jamaah sudah mempunyai gambaran tentang lokasi yang diperlukan. Dan memang peran tehnologi juga menjadi sangat penting dalam menunjang ibadah haji ini. Pelajarilah mulai saat ini walau yang utama adalah mempelajari manasik haji, agar lebih memperlancar ibadah haji. Cermatilah agar bisa mengatur istirahat di tengah kegiatan yang sangat vital itu agar bisa menyempurnakan ibadah haji dan tetap terjaga kesehatannya. Semoga kita selalu sehat.

Bersambung . . . . . . . . . . 12