‘Manasik’ Kesehatan Haji 13 (habis)

Madinah Al Munawaroh

Oleh : dr achmad budi karyono

Setelah ‘puas’ melakukan ibadah sehari hari di Masjidil Haram yang nilai pahalanya insyaAllah 100ribu kali dibanding masjid lain selama sekitar 20 hari, jamaah haji akan melanjutkan perjalanan ke kota hijrah Madinah Al Munawaroh. Di kota masyarakat madani ini jamaah haji melakukan ibadah rutin di Masjid Nabawi sekitar 8 hari. Ibadah di Madinah memang bukan rukun haji, tetapi masjid Nabawi merupakan salah satu dari 3 masjid yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dikunjungi ummat muslim, selain sebagai syiar juga karena nilai pahala yang melebihi masjid lain.

Melakukan ibadah di masjid Nabawi nilai pahalanya 1000 kali solat di masjid lain, apalagi di dalam masjid Nabawi terdapat suatu tempat Raudloh yang merupakan salah satu taman di surga. Di masjid Nabawi juga terdapat makan Rasulullah SAW, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA, untuk di ziarohi.

Keberangkatan ke Madinah menggunakan transpotasi bis untuk setiap rombongan, melewati tol Mekah – Madinah dan biasanya berhenti di rest area yang terkadang pas ketika waktu solat. Di rest area tersebut juga dijual makanan khas padang pasir, karena disepanjang jalan tol tersebut hanya terlihat hamparan pasir dan gunung pasir. Walau perjalanan itu buka rute dari hijrah Rasulullah SAW, namun kita bisa membayangkan betapa berat perjuangan Rasulullah pada saat itu untuk mempertahankan aqidah serta tegaknya islam. Para jamaah haji naik bis, sedangkan dahulu Rasulullah berkendara al Qashwa unta kesayangan Nabi dengan perjalanan di lautan pasir.

Setiba di Madinah jamaah haji langsung menuju pondokan yang saat ini jarak dari masjid maksimal 500 meter saja. Berbeda dengan tahun 2004 dan 2006 ketika kami membimbing jamaah haji yang kebetulan mendapat pondokan sekitar 3 km dari masjid Nabawi. Namun pada tahun 2010 kami sadah mendapat lokasi pondokan sekitar 200 meter saja. Bahkan ketika tahun 2000 mendapat pondokan 20 meter dari pintu nomor 31, yang pondokan dekat ini mulai tahun 2004 sudah rata dengan tanah.

Keadaan pondokan rata rata cukup baik dan lebih memadai dibandingkan pondokan di Mekah. Namun semoga saja untuk tahun ini dan kedepan semua pondokan di Mekah dan Medinah lebih baik keadaan dan servisnya dibanding tahun sebelumnya.

Kegiatan di Madinah hanyalah ibadah rutin ke masjid Nabawi, namun para jamaah akan diajak ziaroh ke sekitar Madinah, terutama ke tempat bersejarah. Yang sebaiknya dikunjungi adalah masjid Quba’, yang merupakan masjid pertama yang didirikan Rasulullah SAW pada tahun 1 H atau tahun 622 M. Melakukan solat sunat di masjid Quba’ mempunyai nilai pahala yang setara melakukan Umroh. Oleh karena itu masjid ini harus lebih di prioritaskan dari pada ke tempat ziaroh lain.

Bukit Uhud, sebagai prioritas selanjutnya, karena disekitar bukit inilah Nabi dan para sahabat mempertaruhkan darahnya untuk mempertahankan islam. Di Uhud juga terdapat pemakaman para suhada yang gugur ketika perang Uhud. Setelah kedua tempat itu dikunjungi, baru ke tujuan ziaroh lain, bisa ke masjid Qiblatain, masjid Khondaq, masjid Abu Bakar, masjid Umar, masjid Usman, masjid Ali dan beberapa masjid sahabat Nabi yang terletak disekitar masjid Nabawi. Bisa juga ke percetakan Al Qur’an, ke Jabal Magnet dan ke pasar kurma, dan di sebelah timur masjid Nabawi terdapat makan Baqi’ yang cukup ramai jamaah haji berziaroh.

Waktu luang bisa digunakan untuk melengkapi belanja oleh oleh, mulai dari makanan sampai perhiasan emas Madinah yang terkenal berkualitas dan cukup menggoda hati. Namun harus selalu menjaga kesehatan, karena walau masih termasuk musim panas, namun udara dan angin cukup dingin dan kering sehingga pemakaian masker masih perlu dipertimbangkan. Biasanya jamaah haji sering terlena karena sudah merasa melaksanakan ibadah haji sehingga kurang memperhatikan kondisi kesehatannya. Akibatnya saat datang di rumah kecapaian dan kesehatan terganggu, sakit.

Setelah sekitar 8 hari, jamaah haji harus pulang ke tanah air melalui bandara Amir Muhammad bi Abdul Aziz di Madinah. 3 hari sebelum kepulangan semua jamaah haji harus melakukan packing dan penimbangan koper bawaan yang ada batas maksimal 32 kg, dan tidak diperbolehkan membawa cairan termasuk air Zam zam di dalam koper.

Saat di bandara dilakukan pemeriksaan emigrasi, yang terkadang ketat tetapi terkadang agak longgar. Beberapa kali melewati pemeriksaan agak longgar sehingga bisa membawa air Zam zam dalam beberapa botol air kemasan dikantong jaket. Pemeriksaan bandara lebih cepat dibanding pada saat kedatangan. Asalkan jamaah haji sudah lengkap, tidak akan ada masalah, kalau ada yang kurang akan menunda semuanya sampai benar benar jelas yang tertinggal karena apa.

Setelah di pesawat selalu berdo’a dan usahakan sebisa mungkin istirahat, karena setiba di tanah air nanti akan banyak tamu sehingga perlu kondisi yang fit. Dilakukan seperti saat keberangkatan dulu, wudlu dengan tayamum, solat dilkukan dengan duduk dan kalau sudah disajikan makanan harus segera dimakan, tidak boleh menahan kentut dan buang air. Perjalanan selama sekitar 10 jam, hilangkan kepenatan dengan molet dan meregang ringan, tetapi tetap berusaha untuk istirahat.

Sesampai di tanah air, dari bandara ke asrama haji para jamaah naik bis, serta dilakukan meperiksaan imigrasi dan mencari barang bawaan dan menerima air Zam zam. Setelah itu naik bis kembali ke tempat tinggal atau bisa dijemput keluarga di asrama haji.

Samapailah di rumah dengan lancar, semoga ibadah haji yang sudah antre bertahun tahun dilakukan dengan lancar dan sempuna sesuai dengan perintah Allah SwT dalam QS Al Baqarah (2):196 :”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. . . . . . . . “. Selamat bertemu dengan keluarga serta sahabat, dan semoga mejadi haji mabrur. Semoga kita selalu sehat.