Menopause Hal Biasa

Hari menopause sedunia 18 Oktober (World Menopause Day)

Oleh : achmad budi karyono

Kehidupan seorang wanita tidak bisa terlepas dari hormon kewanitaan yang ada pada dirinya. Hormon  kewanitaan pada setiap individual sangat berpengaruh dalam hampir setiap kehidupannya. Begitu besar dominasi hormon kewanitaan, seakan sebagai kendali kehidupannya. Namun horman kewanitaan yang membuat sebagian besar hidup nyaman itu mempunyai batas aktivasi, yang kita kenal dengan masa siklus menstruasi pada usia subur. Sehingga pada saat tertentu horman kewanitaan seorang wanita akan habis masa dan pengaruh perubahan yang terjadi sering menjadi masalah. Itulah salah satu ‘masalah’ perlu adanya momen untuk mengingatkan kesiapan menghadapi perubahan ‘kenyamanan’ seorang wanita.

Sejak tahun 2001 International Menopause Sociaty menetapkan bahwa tanggal 18 oktober merupakan hari menopause sedunia (World Menopause Day). Tujuan ditetapkannya hari itu sebagai hari menopause sedunia adalah untuk mensosialisasikan tentang apa itu proses menopause dan juga untuk mensosialisasikan kiat-kiat agar tetap bahagia mengahadapi tahap ini yang memang secara alamiah terjadi yang mengakibatkan penurunan fungsi berbagai organ tubuh pada wanita. Serta antisipasi terhadap beberapa gangguan kesehatan atau penyakit yang timbul pada masa menopause.

Usia menopause pada tiap wanita berbeda, tapi menopause umumnya terjadi usia sekitar 50 tahun. Meski demikian, ada juga sebagian wanita yang mengalaminya sebelum berusia 40 tahun. Inilah yang disebut menopause dini atau prematur. Gangguan ini terjadi karena ovarium berhenti menghasilkan hormone kewanitaan dalam jumlah normal. Menopause juga dapat dipicu oleh beberapa prosedur medis, misalnya operasi pengangkatan rahim atau ovarium. Serta beberapa penyakit tertentu yang berpengaruh pada hormone kewanitaan.

Setiap wanita tidak memiliki proses menopause yang sama karena hormone kewanitaan bersifat individual. Proses ini umumnya ditandai dengan menstruasi yang berakhir secara bertahap. Frekuensi dan interval menstruasi akan semakin jarang sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian wanita yang mengalami menopause dengan siklus menstruasi yang berakhir secara tiba-tiba.

Menjelang menopause, ada beberapa gejala emosional serta fisik yang dapat dirasakan oleh seorang wanita. Gejala-gejala tersebut umumnya meliputi:

  • Perubahan pada siklus menstruasi, misalnya menstruasi yang tidak teratur, volume pendarahan yang sedikit atau berlebihan.
  • Sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flushes).
  • Kekeringan pada vagina yang dapat menyebabkan rasa sakit saat berhubungan seks.
  • Menurunnya gairah seks.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Gangguan tidur seperti sering terbangun tiba-tiba dan insomnia, yang juga dapat menyebabkan sulit konsentrasi.
  • Emosi yang tidak stabil, seperti uring-uringan, sedih atau depresi.
  • Kenaikan berat badan dan metabolisme yang lamban.
  • Sakit kepala.
  • Rambut yang menipis dan kulit kering.
  • Lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih.

Sebaiknya konsultasi ke dokter jika mengalami gejala menopause yang parah, misalnya terjadi infeksi atau muncul rasa nyeri akibat vagina yang kering atau jika terjadi pendarahan setelah melewati masa menopause. Menopause umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus. Gejala-gejalanya juga tidak bersifat permanen dan akan berkurang seiring waktu.

Sebagian besar wanita dapat melakukan perubahan dalam gaya hidup mereka untuk mengurangi gejalanya. Beberapa langkah sederhana berikut mungkin dapat membantu.

  • Mengatasi sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar. Gejala ini dapat redam dengan mengenakan pakaian tipis dan menghindari faktor pemicu seperti kafein, minuman panas, makanan pedas, minuman keras, serta stres. Langkah ini juga berguna untuk menangani gejala berkeringat pada malam hari.
  • Melakukan pola makan yang seimbang dan teratur berolahraga. Selain untuk mencegah kenaikan berat badan yang cenderung mengiringi masa menopause, langkah ini juga berguna untuk menguatkan tulang agar tidak mudah keropos.
  • Cukup beristirahat. Pastikan untuk tidur yang cukup.
  • Melakukan senam. Langkah ini berguna untuk menguatkan otot dasar panggul sehingga mengurangi inkontinensia urin atau sulit menahan urin.
  • Melakukan teknik relaksasi. Misalnya meditasi, mengatur pernapasan, yoga, serta taichi. Teknik ini dapat membantu untuk mengurangi tingkat stres atau depresi.
  • Tidak merokok. Selain meningkatkan risiko banyak penyakit, merokok juga dapat memperparah gejala menopause.

Tidak semua wanita dapat mengatasi gejala menopause dengan langkah sederhana. Jika gejala menopause yang dialami termasuk parah hingga mengganggu rutinitas, dokter biasanya akan menganjurkan penggunaan obat untuk menguranginya. Penentuan jenis metode penanganan medis ini tergantung kepada gejala serta riwayat kesehatan individu. Tiap metode pengobatan pasti memiliki efek samping, maka sebaiknya harus dilakukan sesuai dengan advis dokter.

Betapa cukup komplek perihal menopause ini yang membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang wanita sehingga melibatkan beberapa pertimbangan berbagai ahli sebagai mediasi adaptasi agar tidak terlalu mengganggu kenyamanan. Menopause harus dihadapi setiap wanita dengan kesiapan pemahaman yang baik agar tidak mengganggu perubahan psikis. ‘Kedewasaan’ menghadapi kenyataan memang perlu dimiliki setiap orang agar siap menghadapi semua proses kehidupan. Semoga kita selalu sehat.