img_20140618_060810

Sehat Jiwa Raga

Hari Kesehatan Jiwa sedunia 10 Oktober 2016, tema :  ‘Martabat Dalam Kesehatan Jiwa : Pertolongan Pertama Psikologis Dalam Kesehatan Jiwa Bagi Semua’.

Oleh : achmad budi karyono

‘Kerasnya’ kehidupan saat ini, sedikit atau banyak akan mempengaruhi ‘perangai’ kita dalam perilaku sehari hari. Atau dengan kata lain keadaan yang serba terhimpit target, mempengaruhi stabilitas psikis atau jiwa masyarakat. Sebagian dari mereka bisa memanage jiwa agar tetap stabil, namun beberapa diantara masyarakat ada yang kurang bisa beradaptasi sehingga keadaan jiwa terganggu, mulai dari ringan sampai yang berat. Dan hal ini kalau tidak dikoreksi dengan segera, dikhawatirkan akan semakin kompleks serta tidak mudah untuk kembali ke keadaan semula.

Pada hari ini 10 Oktober setiap tahun diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa sedunia, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang memiliki indikasi gangguan kesehatan jiwa. Selain itu, masalah kesehatan jiwa merupakan suatu masalah serius. WHO (1990) melaporkan dari 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, 5 diantaranya adalah masalah kesehatan jiwa yaitu: depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif kompulsif. WHO juga memprediksikan pada tahun 2020 mendatang depresi akan menjadi penyakit urutan kedua dalam menimbulkan beban kesehatan. Dan ternyata penyakit ini mencapai sekitar 10% dari beban penyakit di Indonesia.

Masyarakat perkotaan harus memiliki jiwa atau mental yang kuat, karena kehidupannya sangat rentan terkena gangguan atau sakit jiwa. Hal itu dikarenakan tekanan mental, psikologis dan emosional daerah perkotaan cukup besar, seperti himpitan ekonomi, daya saing, jalan yang selalu macet dan sebagainya. Begitu juga di daerah pedesaan, sebagai contoh gagal panen yang berulang, bisa menjadi pemicu terganggunya jiwa.

Namun masyarakat Kabupaten Bojonegoro patut bersyukur karena telah memiliki Puskesmas yang berfokus pada perawatan masalah gangguan serta sakit jiwa. Ini merupakan salah satu perhatian atau kepedulian Pemerintah Kabupaten terhadap masalah gangguan jiwa, walau sarana dan prasarana yang ada masih perlu dicukupi serta lebih dilengkapi karena masih belum sesuai harapan.

Memang selama ini mungkin insan kesehatan masih lebih memprioritaskan penyakit fisik daripada penyakit jiwa. Padahal masalah kesehatan jiwa merupakan bagian vital juga dari kesehatan perorangan secara holistic, dan keduanya diharapkan seimbang. Begitu juga tenaga medis di bidang kesehatan jiwa masih perlu dicukupi baik psikolog maupun psikiater.

Hari peringatan kesehatan jiwa ini akan lebih menggugah kepedulian kita agar lebih bisa mengantisipasi gangguan jiwa secara dini, atau paling tidak gangguan perilaku yang merupakan awal salah satu dari gangguan jiwa. Dan yang lebih penting segera konsultasi pada petugas medis sedini mungkin adanya perubahan perilaku agar segera bisa dikoreksi. Peran keluarga sangatlah dominan untuk pencegahan gangguan masalah kejiwaan ini. Sebenarnya semua hal diatas bisa terhindari apabila seseorang mempunyai bekal kecerdasan emosional serta kecerdasan spiritual yang cukup kuat. Sehingga semua pemicu diatas akan bisa di eliminasi dengan kecerdasan spiritualnya. Semoga kita selalu sehat.