‘Manasik’ Kesehatan Haji 7 (re)

Heat Stroke Harus Diwaspadai

Dr H Achmad Budi Karyono

Mulai bulan Agustus 2017, prakiraan cuaca di Mekah masih diatas 40 derajat celcius bahkan bisa mencapai 50an. Suhu setinggi itu belum atau tidak pernah dirasakan oleh sebagian besar calon jamaah haji Indonesia, khususnya Bojonegoro dan sekitarnya. Udara yang sangat panas itu akan langsung menyengat calon jamaah haji kita begitu menginjakkan bumi Jeddah sebagai klorter yang termasuk gelombang 2. Oleh karena itu para calon jamaah haji harus mewaspadai paparan suhu dengan perubahan yang sangat cepat. Ketika masih di Indonesia merasakan suhu sekitar 30an derajat celcius, setelah naik di pesawat berubah menjadi 20an derajat celcius karena AC, kemudian begitu keluar dari pesawat akan menerima suhu sekitar 40an derajat celcius apabila mendarat di siang hari.

Calon jamaah haji Indonesia mulai keberangkatan tahun ini, sebaiknya di dalam manasiknya harus melakukan aklimatisasi atau adaptasi terhadap cuaca negara tujuan, dalam hal ini iklim di Saudi pada saat musim haji sebagai antisipasi menjaga kesehatan. Sampai dengan saat ini, masih jarang para calon jamaah haji memperhatikan perihal yang berdampak pada masalah kesehatan. Karena keterbatasan jadwal manasik, mereka lebih fokus pada menghafal doa dan mengabaikan masalah lain termasuk masalah kesehatan, apalagi ‘sekedar cuaca’. Walau sebaiknya kita harus mempelajari semua hal, termasuk hal yang berkaitan dengan kesehatan.

Kita sudah diperintah Allah untuk menyempurnakan ibadah haji, Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 196 “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah, . . .”. Agar kita bisa melaksanakannya, kita harus menjaga kesehatan kita seoptimal mungkin. Karena sebagian besar rangkaian ibadah haji, sangat berkaitan dengan kegiatan fisik bahkan kekuatan fisik. Oleh karena itu kita harus selalu menjaga fisik dalam keadaan prima antara lain dengan mempelajari hal hal yang berkaitan dengan kesehatan, termasuk keadaan geografis dan iklim setempat.

Pada saat musim haji th 2017 nanti, khususnya bulan Agustus dan September 2017 cuaca di sekitar Mekah dan Madinah masih tergolong panas, di sekitaran 40oc sampai 50oc. Oleh karena itu, sejak saat ini, kita harus mengantisipasi dengan keadaan cuaca tersebut. Belum lagi setahun yang lalu, beberapa negara di bujur lintang utara yang segaris dengan Arab Saudi, dilanda gelombang awan panas yang sampai memakan korban.

Salah satu penyakit atau dampak yang timbul karena tingginya suhu pada musim panas adalah Heat Stroke. Heat stroke adalah kondisi yang mengancam jiwa dimana suhu tubuh mencapai lebih dari 40°C. Heat stroke dapat terjadi karena kenaikan suhu atau cuaca lingkungan, ataupun aktivitas yang berlebihan sehingga dapat meningkatkan suhu tubuh, serta memakai pakaian yang terlalu tebal sehingga mengganggu pengeluaran keringat.

Heat stroke di tandai dengan peningkatan suhu, sampai 40°C atau lebih, namun tidak berkeringat. Jika heat stroke disebabkan oleh karena suhu lingkungan yang sangat panas, maka kulit cenderung terasa panas dan kering, kemerahan pada kulit, nafas menjadi cepat dan terasa berat disertai denyut jantung semakin cepat, sakit kepala seperti ditusuk-tusuk dan gejala saraf lain, misalnya kejang, tidak sadar, halusinasi serta otot bisa terasa kram, lalu selanjutnya terasa lumpuh.

Jamaah haji usia lanjut

Jemaah haji yang berusia lanjut akan mengalami penurunan fungsi regulasi dalam tubuhnya. Hal ini juga akan mempengaruhi daya adapatasi jemaah haji usia lanjut terhadap suhu yang panas. Pada orang yang normal dan berusia muda, saat suhu udara panas, tubuh akan merespon dengan menurunkan suhu kulit agar tidak terkena sengatan panas. Respon tubuh adalah dengan melakukan pelebaran pembuluh darah yang ada di kulit guna mengurangi sengatan panas. Pada orang yang berusia lanjut kondisi ini tidak terjadi. Pada jemaah haji yang berusia lanjut akan terjadi penurunan kemampuan thermoregulasi tubuh. Kemampuan tubuh untuk mengeluarkan keringat sebagai salah satu cara untuk mendinginkan tubuh berkurang seiring dengan meningkatnya usia. Kemampuan pelebaran pembuluh darah yang ada di kulit dan kemampuan sistem sirkulasi darah pun ikut menurun seiring meningkatnya umur . Hal ini akan diperberat jika ditemukan adanya penurunan kapasitas kebugaran orang yang berusia lanjut dan adanya penumpukan lemak dalam tubuh. Orang yang berusia lanjut akan menurun kemampuannya untuk beradaptasi terhadap terjadinya dehidrasi. Pada usia lanjut akan terjadi penurunan rasa haus akibat dehidrasi sehingga akan menyebabkan asupan cairan berkurang dan memicu penurunan cairan plasma tubuh. Hal ini akan menyebabkan dehidrasi semakin berat pada orang yang berusia lanjut. Jika terjadi dehidrasi pun orang yang berusia lanjut membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihan dari kondisi dehidrasinya, sehingga akan memicu timbulnya penyakit oleh sengatan panas (seperti heat stroke, heat cramps, heat exhaustion).

Namun demikian jemaah haji yang berusia lanjut dapat beradaptasi dengan cuaca panas ini. Untuk dapat beradaptasi dengan cuaca panas jemaah haji yang berusia lanjut wajib melakukan latihan fisik ringan pada suhu panas untuk 8 – 10 hari sebelumnya. Jika ini dilakukan jemaah haji usia lanjut akan mampu beradaptasi dengan baik pada suhu panas. Selain itu diperlukan tambahan cairan yang lebih banyak diperlukan guna meningkatkan cairan plasma.

Heatstroke yang fatal sering ditemukan pada orang berusia lanjut yang kegemukan, resiko terjadinya heatstroke 3 kali lipat. Kegemukan akan menyebabkan penurunan sensitivitas terhadap rangsangan panas. Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan saraf perasa. Tingginya jaringan lemak tubuh pada orang yang kegemukan akan menyebabkan peningkatan suhu jaringan tubuh akibat kemampuan jaringan lemak untuk menyimpan panas. Tebalnya lapisan lemak bawah kulit juga akan menyulitkan tubuh untuk melepaskan panas tubuh keluar. Sehingga kebutuhan cairan pada orang yang obes pasti lebih banyak daripada orang dengan berat badan normal.

Hipertensi – Diabetes – Penyakit Paru

Secara umum pada orang yang menderita hipertensi, akan terjadi penurunan tekanan darah pada saat cuaca panas. Namun demikian pada orang hipertensi yang kronis akan terjadi perubahan pembuluh kapiler dan penipisan. Hal ini akan mempengaruhi penurunan kemampuan pelebaran pembuluh darah guna menurunkan suhu tubuh, serta penurunan aliran darah ke kulit saat paparan panas pada pasien hipertensi.

Tekanan darah sistolik akan lebih rendah pada saat pagi hari pada cuaca panas dibandingkan cuaca dingin. Namun didapatkan tekanan darah sistolik akan meningkat lebih tinggi pada saat malam hari pada cuaca panas pada pasien yang berusia lanjut dibandingkan cuaca dingin. Hal ini disebabkan penurunan dosis obat hipertensi pada saat cuaca panas akibat terjadinya penurunan tekanan darah saat panas. Sehingga pemberian obat antihipertensi tetap pada dosis sebelumnya dan sebaiknya diberikan pada malam hari. Selain itu perlu pemantauan yang lebih intensif untuk pasien usia lanjut yang menderita hipertensi terutama pada saat malam hari pada cuaca panas.

Data epidemiologi menunjukkan bahwa pasien Diabetes Mellitus (DM) memiliki resiko kematian dan sakit yang lebih tinggi pada saat cuaca panas. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kelainan metabolisme, dan disfungsi sistem sirkulasi darah dan saraf. Ketiga hal tersebut memicu terjadi kegagalan termoregulasi tubuh saat cuaca panas.

Kemampuan pelebaran pembuluh darah pada pasien DM jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang normal pada saat paparan cuaca panas. Kondisi ini disebabkan karena respon pelebaran yang menurun dari pada kemampuan penyempitan pada pembuluh darah kulit. Kemampuan berkeringat menurun pada penderita DM khususnya pada anggota gerak bagian bawah. Hal ini akan menyebabkan anggota gerak bagian bawah semakin kering dan mudah untuk terjadinya luka. Jika terjadi luka juga akan terganggu penyesuaian pembuluh darah akibat adanya gangguan pelebaran pembuluh darah di daerah anggota gerak bagian bawah penderita DM.

Penyerapan insulin akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu udara, sehingga dapat menyebabkan kadar gula drop pada penderita DM pada cuaca panas. Kondisi ini menyebabkan perlunya penyesuaian diet dan terapi insulin pada saat cuaca panas.

Pada penyakit paru atau sesak, data epidemiologi menunjukkan pasien usia lanjut yang memiliki penyakit pernafasan seperti asthma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), pneumonia dan tuberculosis akan memiliki resiko kematian yang lebih besar saat cuaca panas.

Jemaah haji yang berusia diatas 60 tahun yang memiliki faktor resiko seperti kegemukan, DM, hipertensi, penyakit paru memiliki resiko yang tinggi untuk terserang penyakit akibat panas dan akan meningkatkan resiko kematian.

Penanganan pencegahan terhadap jemaah haji usia lanjut yang memiliki faktor resiko menjadi penting untuk mencegah peningkatan angka kematian jemaah haji usia lanjut pada cuaca panas.

Beberapa cara untuk antisipasi hal tersebut, kita harus berlatih dengan mencoba seperti kita berada pada keadaan di Arab Saudi. Minum air zam zam 2 gelas setiap jam. Menghindari paparan sengatan matahari secara langsung. Membatasi aktivitas selain ibadah serta fokus pada hari Arofah. Konsultasi kepada dokter akan lebih baik agar seluruh rangkaian ibadah haji lancar dan mendapat ridlo Allah SwT. Semoga kita selalu sehat.

Bersambung . . . . . . . . . . 8