‘Manasik’ Kesehatan Haji 2017-5

Sekitar ibadah Umroh

Oleh : dr achmad budi karyono

Jamaah haji gelombang 1 di Madinah melakukan ibadah rutin di Masjid Nabawi sekitar 8-9 hari, serta ziaroh di beberapa masjid dan tempat bersejarah disekitar Madinah. Ibadah dilakukan dengan khusu’, tidak memforsir diri, harus selalu menjaga stamina untuk ibadah utama di Mekah. Konsumsi siang dan malam telah disediakan maktab, harus segera dimakan, tidak boleh ditunda, karena nanti dikhawatirkan menjadi basi. Sebisa mungkin minum air zam zam setiap jam, karena terkait cuaca. Geografis dan cuaca Madinah nanti akan di sajikan tersendiri.

Kegiatan jamaah haji di Madinah relativ tidak seberat ibadah di Mekah, bisa ‘menabung’ stamina, bisa cukup istirahat, untuk menyiapkan kegiatan ibadah utama nanti di Mekah. Oleh karena itu harus pandai mensiasati bagaimana bisa ibadah yang khusu’ dan mengumpulkan stamina.

Sebaliknya Jamaah haji gelombang 2 di Mekah, harus lebih cerdas dalam mensiasati istirahat. Karena beberapa hari menjelang keberangkatan banyak sanak saudara, kerabat silaturrakhim pada para jamaah yang tentu saja ‘menyita’ waktu dan tenaga. Pada hari keberangkatan sangat menguras tenaga, apalagi yang tempat tinggalnya jauh. Belum lagi keadaan lalu lintas saat itu pasti sangat padat. Pada saat transit di asrama haji juga sulit untuk istirahat, begitu juga saat di pesawat. Setiba di bandara harus melewati imigrasi serta beberapa jam transportasi darat ke pondokan, pembagian kamar serta mengatur barang bawaan. Inilah rangkaian yang memerlukan stamina prima.

Umroh harus dilaksanakan dengan segera oleh jamaah haji gelombang 2, yang merupakan rangkaian ibadah haji walau stamina agak terkuras agak mulai menurun. Belum lagi para jamaah termasuk ‘orang baru’ yang belum faham lor kidul. Oleh karena itu sebelum berangkat umroh sebaiknya mencari tahu lokasi daerahnya, tanda apa yang ada di sekitar lokasi, misal dekat bangunan apa, atau ada papan iklan apa dan lain sebagainya sebagai jembatan keledai atau tanda lokasi pondokan, selain nomor rumah yang ada. Atau mungkin bisa mungkin memanfaatkan smartphone dengan peta google atau street view atau yang lain sebagai alat bantu navigasi, diupayakan setiap regu ada.

Usahakan sebelum masuk masjidil Haram sudah makan, artinya cukup tenaga, sudah BAK atau BAB agar nanti ditengah ibadah tidak terganggu, dan tentu saja sudah suci. Dan upayakan pula pada saat pelaksanaan umroh tidak terpotong oleh waktu solat karena masjid serta area towaf akan penuh jamaah. Hal itu harus dihindari karena para jamaah masih baru pertama kali masuk masjidil Haram. Perlu disepakati pula barang kali nanti terpisah rombongan atau regu, kalau sudah selesai ibadah berkumpul dimana. Misalnya diluar Marwah tapi agak menepi, atau didepan pintu no sekian. Harus menetapkan 3 tempat pilihan untuk menghindari barangkali tempat iyang kita pilih ada sesuatu atau di pakai sesuatu oleh pengguna yang lain dan pilihlah tempat yang aman. Kesepakatan ini harus benar benar ditaati, karena pernah terjadi ada sepasang jamaah mencoba pulang ke pondokan sendiri, yang akhirnya tersasar, yang kerepotan ketua regu.

Hari hari berikutnya para jamaah bisa melakukan ibadah sendiri ke masjidil Haram, baik beregu atau beberapa jamaah yang bersamaan ataupun pribadi sekalian. Cermatilah lokasi, waktu serta efisiensi tenaga dan stamina dengan baik, dengan mengutamakan hari H di Arofah, karena haji adalah Arofah. Usahakan setiap orang atau minimal setiap regu memiliki HP sebagai alat komunikasi dan usahakan yang smartphone agar lebih bermafaat untuk navigasi juga. Dan siapapun yang pergi harus pamit pada ketua regu. Jaga stamina dengan baik. Semoga kita selalu sehat.

Bersambung . . . . . . . . . . 6