prolanis

Diabetisi Aman dan Nyaman Berpuasa

Oleh : Dr Achmad Budi Karyono

Pada era JKN ini semakin banyak masyarakan yang tergugah memperhatikan kesehatan dirinya. Begitu juga para penyandang Diabetes, mereka membentuk komunitas ‘Bergaul dengan Diabetes’ di fasilitasi kepersertaan JKN. Kegiatan mereka ‘hanya’ ngerumpi seputar Diabetes, diskusi kesehatan terkait Diabetes dengan dokter, konsultasi dengan ahli Gizi, atau senam Diabetes bersama instruktur senam. Tujuan utama komunitas ini membentuk kemandiriannya sebagai Diabetisi, serta merubah mindset bahwa Diabetes merupakan bagian masyarakat yang ‘spesial’, terutama dalam hal memilih makanan dalam sebuah pesta misalnya, agar tidak menyantap makanan ‘sembarang’.

Sebagian besar dalam komunitas Bergaul dengan Diabetes ini muslim, yang dalam waktu dekat akan memasuki bulan Ramadhan 1438H. Mereka telah paham bahwa melaksanakan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan merupakan suatu kewajiban, sebagaimana perintah Allah SwT : “Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”, QS Al Baqarah 183. Mereka harus menyiapkan diri sehubungan dengan keistimewaan metabolisme kadar gula darahnya yang fluktuatif serta mempunyai pola makan tersendiri, dan inilah salah satu ‘spesialnya’ mereka, sehingga harus mempunyai kiat tersediri dalam melaksanakan ibadah puasa.

Sebenarnya mereka ‘bisa terbebas’ dari puasa seperti yang terdapat dalam firman Allah SwT dalam QS Al Baqarah 184, karena ‘sakit’. Namun di akhir ayat itu menyebutkan :”. . . . . . . .dan puasamu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Oleh karena itu sebagian besar diantara mereka akan menjalankan ibadah wajib di bulan penuh barokah ini.

Secara medis, seseorang diabetisi masih diperbolehkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan sejauh memenuhi syarat tertentu yang disesuaikan dengan kondisi diabetesnya. Puasa bagi orang diabetes jika tidak dipersiapkan dengan baik, selain dapat membahayakan jiwa, juga dapat mengganggu kekhusyukan ibadah itu sendiri. Oleh karena itu penting sekali bagi orang yang mengalami diabetes mellitus yang ingin berpuasa untuk memahami kondisi diabetes yang memungkinkannya untuk berpuasa secara aman.

Dalam kondisi puasa, tubuh manusia dapat berfungsi dengan baik, karena terdapat berbagai macam hormon dalam tubuh yang mengatur keseimbangan kerja organ-organ tubuh. Diabetes melitus  merupakan salah satu contoh dari kondisi dimana tubuh kekurangan salah satu hormon  yang dinamakan insulin. Hormon ini berfungsi untuk merubah kadar gula dalam darah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa diabetes mellitus merupakan kelainan kurangnya jumlah dan kerja insulin  dalam tubuh.

Bagi Diabetisi, kurangnya jumlah dan kerja insulin dalam tubuh, mengakibatkan diabetisi berpotensi untuk mengalami berbagai macam gangguan yang dapat membahayakan kondisi fisik sebagai akibat dari tidak seimbangnya proses-proses metabolisme karbohidrat. Bahaya yang mungkin timbul akibat berpuasa bagi diabetisi tanpa persiapan yang tepat diantaranya adalah hipoglikemi, hiperglikemi, ketoasidosis, dehidrasi dan trombosis.

Hipoglikemi berarti menurunnya kadar gula dalam darah. Tanda dan gejala yang umum terjadi selama hipoglikemia adalah : rasa lapar, lemas, gemetaran, keluar keringat dingin, penglihatan menjadi kabur, pusing, mengantuk dan sulit berkonsentrasi. Kadar gula darah pada orang yang mengalami hipoglikemi kurang dari 60 mg/dL. Dalam keadaan puasa, hipoglikemi dapat terjadi akibat dari kurangnya makanan yang masuk ke dalam tubuh. selain menimbulkan tanda dan gejala seperti tadi, jika terlambat mendapatkan pertolongan dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen.

Sebaliknya hiperglikemi, orang diabetes yang berpuasa dapat mengalami hiperglikemi (peningkatan kadar gula darah lebih dari 200 mg/dL). Hiperglikemi dapat terjadi sebagai akibat dari pengurangan dosis insulin yang dilakukan dengan asumsi disesuaikan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. Asumsi tersebut tentu saja tidak tepat, karena walaupun dalam keadaan puasa  proses pemecahan glikogen dan lemak yang akan meningkatkan kadar gula darah tetap terjadi. Hiperglikemi ini jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan timbulnya ketoasidosis yang ditandai dengan adanya mual, muntah, pengeluaran urin yang berlebihan, tidak mau makan, sampai terjadi penurunan kesadaran.

Dalam keadaan berpuasa, dehidrasi (kurang cairan tubuh) dapat terjadi karena kurangnya asupan air. Di negara yang beriklim tropis seperti Indonesia, dimana kelembaban udara sangat tinggi, maka pengeluaran keringat akan meningkat, sehingga memungkinkan terjadinya dehidrasi selama berpuasa. Pada orang diabetes dengan kadar gula darah yang  masih tinggi akan mengeluarkan urin dalam jumlah yang berlebihan sehingga menyebabkan dehidrasi. Kurangnya cairan dalam tubuh akan menyebabkan penurunan tekanan darah. Selain itu, dehidrasi akan meningkatkan kekentalan darah yang selanjutnya menyebabkan menurunnya kecepatan aliran darah dan menyebabkan peningkatan proses penggumpalan darah dalam tubuh yang akan meningkatkan resiko timbulnya sumbatan dalam pembuluh darah (trombosis) seperti pada pembuluh darah mata, ginjal, atau pembuluh darah pada otak sekalipun.

Pada prinsipnya diet selama bulan puasa harus sama dengan diet sehari-hari, yaitu diet dengan menu seimbang dengan perhitungan kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Juga disarankan untuk banyak minum pada malam hari dan memastikan bahwa makan sahur dilakukan seakhir atau selambat mungkin sebelum Imsyak tiba.

Aktifitas normal sehari-hari perlu diperhatikan.  Bagi diabetisi, kegiatan fisik yang berlebihan selama berpuasa dapat menyebabkan hipoglikemi sehingga harus dihindari. Shalat Taraweh merupakan salah satu contoh tambahan kegiatan fisik yang dilakukan selama bulan puasa dan perlu diwaspadai dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemi. Oleh karena itu disarankan untuk makan seimbang sebelum shalat Taraweh.

Diabetisi yang berpuasa harus segera membatalkan puasanya jika merasakan adanya gejala hipoglikemi. Disarankan agar diabetisi selalu menyediakan bekal makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat sederhana (karbohidrat yang dapat diolah secara cepat menjadi gula di dalam tubuh, misalnya air yang mengandung gula, jus, atau permen) untuk segera dikonsumsi saat merasakan gejala hipoglikemi atau segera membatalkan puasa pada saat Magrib tiba. Hal ini sesuai dengan seruan Nabi yang berbunyi, “Senantiasa manusia itu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (H.R. Bukhori dan Muslim).

Melalui pemeriksaan dan konsultasi kepada dokter keluarga yang menyimpan catatan medisnya, akan diketahui besarnya risiko dan kemungkinan resiko apa yang mungkin dapat terjadi. Selain itu, konsultasi akan membantu diabetisi untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai cara berpuasa secara aman, seperti  mengatur makanan dan aktifitas fisik sehari-hari, memantau gula darah, menggunakan obat-obatan dan insulin yang waktu dan dosisnya akan  disesuaikan untuk keamanan berpuasa.

Persiapan puasa Ramadhan untuk setiap orang diabetes harus disesuaikan dengan keadaan individu. Selanjutnya juga diperlukan pemantauan selama menjalankan ibadah puasa untuk mendeteksi secara dini dan mencegah resiko akibat berpuasa. Dan kita harus selalu yakin pada firman Allah diatas :”. . . . . . dan puasamu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Selamat menjalankan ibadah puasa secara khusyuk dan aman. Semoga kita selalu sehat.