keluarga hebei

Kisah Lain dari Jalur Sutra 1

Beberapa bulan sebelum keberangkatan, urusan tiket dan visa ke negeri yang terluas di Asia tidak ada kendala yang berarti. Sehingga semua urusan rutin sehari hari bulan Ramadhan serta persiapan hari raya Idul Fitri 1438H terbilang lancar.

Perjalanan dari Bojonegoro ke Bandara Juanda justru ‘dihadang’ oleh keramaian sekitar pasar Babat, yang andaikata penyakit sudah tergolong ‘kronis’ dan sulit disembuhkan. Dan kondisi seperti ini merupakan salah satu ‘cermin’ diri kita.

Pasar Babat sudah ‘dipecah’ menjadi dua, namun tetap saja sebagai biangkerok macet. Bahkan kemacetan terancam menjadi dua tempat pula di jalur yang sama bagi lalu lintas yang berasal dari Bojonegoro.

Kondisi macet inipun seakan ‘dibiarkan’ serta seakan ‘dinikmati’ oleh ‘warga sekitar’ atau entah oleh siapa. Dan siapa pula yang harus bertanggung jawab untuk mengurai lalu lintas sekitar pasar yang waktu tempuh melaluinya memakan waktu hampir satu jam.

Setiap pengguna jalan yang melewatinya harus ‘berhitung’ dengan ruas jalan ini, misalnya seperti perjalanan ini tetkait tiket yang sudah terpesan. Begitu juga ruas jalan Lamongan dan Duduksampean yang sejalur dalam perjalanan ini.

Namun hal ini tidak bisa terhindari oleh keadaan darurat yang menyangkut life saving, misal bagainama seorang yang terancam jiwanya saat melalui jalur padat kronis ini walau menumpang ambulan. Tidak adakah solusi untuk mengurai situasi lalu lintas yang sudah berpuluh tahun dengan kondisi seperti itu.

Banyak faktor penyebab kemacetan yang ternyata sangat rendah kepeduliannya terhadap kepentingan publik. Misalnya pedagang yang tidak seharusnya memakan ruas jalan, pengemudi yang seenaknya berhenti atau bahkan parkir yang bukan pada tempatnya dan masih banyak lagi. Mereka tidak mau peduli pada pengguna jalan yang lain, bahkan saling serobot untuk kepentingan dirinya.

Kalkulasi waktu perjalanan kami longgarkan menjadi 6 jam, sehingga kemungkinan keterlambatan bisa diminimalisir. Kami harus menuju Denpasar lebih dahulu untuk berkumpul dengan saudara.

Alkhamdulillah pesawat yang kami tumpangi hanya delay kurang dari satu jam saja. Dan transit di Denpasar yang kurang dari 12 jam bisa kami gunakan untuk silaturrakhim dan rehat. Karena keesokan dini hari sudah harus terbang ke negeri jiran untuk bergabung dengan keluarga dari Belanda. Semoga kita selalu sehat (Abk)