tiananmen

Kisah Lain dari Jalur Sutra 6

Alkhamdulillah kami bersembilan dan di tambah 2 orang lagi tuan rumah sehingga 11 org sudah merasa lebih segar dan fit lagi. Sekarang ‘kesebelasan’ ini akan menuju ke apartemen di kota Beijing yang kami tempuh hampir 2 jam perjalanan dalam keadaan sering macet.

Sesampai di apartemen kami hanya memasukkan koper saja serta sarapan beberapa roti untuk selanjutnya berburu city tour Beijing, karena kami tidak ingin waktu tersiakan selagi berada disana. Kami hanya bertujuh saja karena tuan rumah dan orang tua tetap tinggal di apartemen. Kami memilih menggunakan MRT sebagai kendaraan menuju Tiananmen. Dari apartemen berjalan sekitar 500 meter untuk menuju stasiun terdekat. Dan turun di stasiun yang terdekat pula dengan Tiananmen, disana sudah penuh antrean yang ternyata di dominasi oleh wisdom. Namun juga tidak kurang ‘wong londo’ dan kami kurang menemui orang indonesia apakagi 3 orang dari kami memakai jilbab. Sehingga hampir setiap orang tertarik untuk melihat atau memperhatikan kami karena hampir semua mereka mengenakan pakaian ‘sekedarnya’.

Cuaca di Beijing cukup panas sekitar 30o celcius karena memang sedang musim panas. Di tengah perjalanan kami hanya berani untuk membeli minuman serta snek yang harus lebih kami cermati dulu komposisinya. Atau kami hanya membeli buah yang ada di beberapa kios di sepanjang jalan itu. Antara lain apel, peer, anggur, persik, semangka, melon serta ketimun.

Tiananmen merupakan istana kuno peninggalan dinasti Ming memang begitu luas lebih dari 400.000 m2. Menyimpan beraneka kisah para raja mulai yang bijaksana maupun yang sangat bengis. Bahkan pernah juga sebagai lokasi tragedi Tiananmen pada tahun 1989.

Tiananmen juga merupakan salah satu icon dari negeri tirai bambu ini. Sehingga setiap wisatawan merasa belum pernah ke Cina kalau belum masuk Tiananmen. Hal ini rupanya juga dirasakan oleh sebagian warga lokal Cina sebagai negeri yang terluas di Asia serta berpenduduk terbanya di dunia.

Melihat Tiananmen kita bisa merasakan betapa kebesaran ke kaisaran saat itu. Serta betapa tinggi kebudayaan yang dimiliki negeri itu. Bahkan beberapa dinasti sempat ekspansi ke bumi nusantara. Dan kita pun semasa akhir pemerintahan Singosari dan awal Mojopahit pernah berhadapan dengannya untuk mempertahankan kedaulatan nusantara.

Mereka menjaga kebudayaannya dengan kepedulian yang sangat tinggi. Dan sudah seharusnya pula kita sama atau melebihi seperti mereka agar integritas kita sebagai negeri nusantara akan semakin solid, tidak terusik oleh siapapun yang mengaku memiliki wilayah yang terbentang dari barat ke timur, serta mulai utara sampai selatan. Semoga kita selalu sehat. (Abk).