jingshan park

Kisah Lain dari Jalur Sutra 7

Setelah keluar dari Tiananmen Square Garden matahari masih cukup tinggi. Kami bertujuh tidak menyiakan waktu yang tersisa. Kami menyeberang ke utara untuk menanyakan apakah taman Jingshan Park masih belum tutup. Ternyata masih buka dan alkhamdulillah tidak ada antrean panjang hanya beberapa pengunjung saja.

Taman Jingshan Park berbeda dengan istana Tiananmen, mempunyai puncak yang cukup tinggi sekitar 50 meter, dan ternyata memerlukan tenaga ekstra untuk mencapainya. Sebagian tanjakan berupa anak tangga dan beberapa berupa jalan dengan kemiringan sekitar 30o. Kami cukup merasa tersengal saat menanjak karena juga dihantui kecemasan waktu yang memburu kami, namun karena semangat yang tinggi kami akhirnya juga sampai puncak.

Puncak ‘Istana’ Jingshan Park tidak cukup luas didalamnya terdapat patung Budha. Hampir seluruh area puncak dipenuhi pengunjung yang juga didominas wisdom. Tidak satupun yang terlepas dari kamera Hp untuk selfi ataupun saling minta tolong berfoto ria dengan berbagai pose yang terkadang menggelikan. Dari puncak Jingshan Park seakan kita bisa mengamati semua penjuru Beijing. Mungkin disaat belum ada menara dan gedung bertingkat, puncak itu selain sebagai pemujaan juga berfungsi menara pengamat keamanan istana Tiananmen yang terletak di selatannya, dan merupakan pusat kota Beijing.

Setelah menikmati dua istana kami bertujuh balik ke penginapan dengan mengendarai semacam helicak dan dilanjutkan dengan MRT. Namun kali ini kami kurang cermat memilih stasiun, sehingga harus berjalan cukup jauh. Energi kami cukup terkuras dan sangat perlu penambahan gizi, namun kami harus mencermati mencari resto yang halal.

Dalam pencarian yang sudah perlu asupan, kami membeli buah dan minuman kemasan yang juga harus kit abaca komposisinya. Setelah mencari info di beberapa tempat, akhirnya kami menemukan resto yang ternyata hanya beberapa bangunan disebelah kanan penginapan. Resto halal ditandai dengan board atau tulisan warna hijau dan terkadang bertuliskan dengan huruf hijaiyah.

Kami memesan beberapa menu yang berbeda mulai dari nasi, mie atau sayur. Kami saling merasakan, cara penyajian cukup baik, semua karyawan memang menyimbulkan identitas muslim. Masakan enak sekali, atau mungkin karena kami memang cukup kelaparan setelah seharian ‘berburu’ istana dengan berpacu karena terbatasnya waktu. Dengan lahap semuanya kami santap sampai tak bersisa.

Kami memilih minuman kemasan yang rata rata menyegarkan namun tidak pernah manis. Dan ternyata warga China berusaha menghindari gula dan tidak terlalu banyak atau ‘anti’ mengkonsumsi karbohidrat. Memang sebaiknya kita harus mengurangi konsumsi gula atau karbohidrat dan cukup aktivitas agar kesehatan tetap terjaga. Semoga kita selalu sehat. (Abk)