wisata kota tua

Kota Tua Penuh Anak Muda

Salah satu destinasi wisata di Jakarta yang cukup menarik dan dikunjungi ribuan wisdom dan wisman adalah Kota Tua atau BataviaTempo Doeloe. Daerah ini menjadi cikal bakal kota Jakarta di masa silam yang akhirnya berkembang seperti saat ini. Masih banyak pula bangunan gedung kuno yang pada umumnya peninggalan saat pendudukan Belanda.

Wisata ini ‘muncul’ lebih semarak sekitar tahun 2011an yang sebelumnya hanya berupa cagar budaya dan bersepeda onta saja di halaman gedung Governor. Saat ini sudah berkembang menjadi berbagai ragam sajian wisata. Bahkan berkembang sampai area Stasiun Kota yang merupakan salah satu cagar bangunan juga.

Setiap muda mudi yang hadir hampir pasti ‘mengabadikan’ dirinya dengan salah satu sarana wisata yang ada. Baik bangunan tempo doeloe, sepeda onta, pantomim dan masih banyak lagi yang tersaji.

Namun yang patut disayangkan adalah kurangnya kepedulian terhadap kesenian milik nusantara sendiri, wayang. Di area kota tua ada beberapa museum dan salah satunya museum wayang. Tidak banyak yang mengunjungi museum wayang apalagi yang melihat atau mempedulikan pertunjukan wayang di dalamnya. Bahkan kalau memang kita merasa sebagai pemilik Nusantara tentu akan ‘menangis’ melihat pertunjukan ini. Karena semua nayogo dan sinden bukan warga Nusantara melainkan orang ‘walondo’.

Mereka benar benar menekuni secara profesional baik alunan gamelan maupun liuk vokal sang sinden yang setara dengan permainan wayang yang dimainkan para senior. Malu, haru bercampur bangga melihat dan menikmati permainan mereka. Sebelum tahun 1970 saat SD di Kediri saya pernah berlatih gamelan dan sempat beberapa kali melawat ke SD lain di luar kota unjuk pagelaran gamelan. Namun mereka lebih menguasai gamelan dari yang saya bayangkan.

Apakah generasi sekarang sempat mengenal gamelan yang merupakan salah satu kebudayaan Nusantara? Akankah gamelan akan punah di negeri sendiri? Sampai dimanakah tingkat kepedulian untuk melestarikan budaya Nusantara?

Beberapa pertanyaan besar yang perlu renungan yang mendalam. Bukan hanya sekedar meramaikan Kota Tua untuk sekedar selfi dan ‘umuk’ sudah berkunjung kesana tetapi peduli terhadap sejarah yang menyeluruh termasuk salah satu budaya Nusantara kita. Semoga kita selalu sehat. (Abk)