masjidil haram

Liputan Haji KBIH Masyarakat Madani 2017-11

Oleh : Khusnatul Mawaddah

Sholat di Masjidil Harom dengan imam masjid yang bersuara lembut dan empuk membuat qolbu siapapun bergetar mendengarnya. Bacaan surat yang kadang panjang kadang pendek, mahroj dan tajwidnya yang fasih mampu menyentuh isi dalam surah Al Qur’an. Mendengar suara imam ¬†masjidil Harom seringkali menangis. Situasi masjidil Harom semakin hari memang semakin fantastis, ramai, meriah dengan lautan manusia yang terus mengalir seperti pusaran air. Di Ka’bah Al Mukarromah tidak bisa membendung tetesan air mata jutaan manusia. Setiap kali thowaf penulis mengamati tidak sedikit jamaah haji menangis dengan sesenggukan sambil berdo’a, keringat yang membasahi baju seakan menjadi saksi ketundukan dan kepasrahan kita.

Jamaah yang tergabung di KBIH Masyarakat Madani semakin hari semakin cepat beradaptasi. Thowaf sunnah sudah berani melakukan sendiri, meski bisa dimaklumi dihari pertama dan kedua banyak yang masih bingung jalan pulang, karena mengikuti arus manusia saat mengikuti langkah, juga karena belum hafal peta dan situasi lokasi. Namun seluruh cerita jamaah, penulis menyimpulkan ada perubahan cara pandang dari jamaah, kelihatan semakin tawadhu dan semakin santun.

Petugas haji di hotel yang ditempati orang Indonesia memberi pelayanan 24 jam untuk mengantar pulang jika ada yang salah jalan asal kita mau bertanya. Ada jamaah dari KBIH Masyarakat Madani yang memang sudah sepuh namun cukup berani. Karena bingung arah pulang, dia balik lagi ke masjidil Harom untuk sholat, sambil berdoa agar ketua regu mau menjemput. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, ketua regu menemukan dia di area Ka’bah. Penulis bersama 2 teman sekamar juga 2 kali salah pintu, cari arah mau ke tempat halte bus, berputar keliling jalan kaki sekitar 4 km. Saat capek dan pasrah sambil istighfar baru datang pertolongan Allah, bis datang dipertigaan lampu merah. Benar-benar sempat galau tapi juga lucu.

Besoknya terulang lagi, mau coba selain pintu 1, ternyata juga masih bingung dan terus jalan akhirnya ketemu saudara dari Riau diajak ke panitia dari Indonesia ke hotel, akhirnya kita bertiga semua ibu-ibu masuk database jamaah salah jalur. Yah kenangan yang tak terlupakan, maunya belajar mandiri tanpa bapak-bapak , namun masih bingung.

Esoknya kita dibreafing oleh ketua rombongan agar tidak salah jalur lagi. Kita diajak putar lantai satu sampai empat, serta melihat pengembangan masjid yang dulunya adalah pasar seng, dan diajak singgah ke saudara dari Indonesia yang membantu KBIH Masyarakat Madani untuk pembelian hadyu.

Pengalaman pertama haji memang bisa dimaklumi, saat kita salah jalan, kita tetap ingat pertolongan Allah pasti datang, tentu dengan sabar dan sholat tempat kembalinya. Dan yang lebih penting setiap kita menemui kesulitan dalam hidup, hanya Allah tempat kita kembali, keyakinan inilah tauhid kita sebagai orang beriman.

Aktivitas sholat berjamaah lima waktu dan tilawah terus kita usahakan ke Masjid, namun dokter dari KBIH Masyarakat Madani memberi saran jika terlalu capek tidak boleh memaksakan ke Masjid, karena perjalanan ritual Haji belum dimulai, yaitu Tarwiyah, bermalam di Mina serta Arofah, thowaf, sa’I, melempar jumroh serta tahallul. Waktu masih 2 minggu lagi menunggu perjuangan inti haji. Semoga Allah memberi kesehatan dan kekuatan. Aamiin

Semoga kita selalu sehat.