melamar

Kisah Lain dari Jalur Sutra 11

Tidur kami cukup lelap walau udara di luar cukup dingin dan suara angin yang menderu karena bertiup cukup kencang. Subuh disini saat itu awal Juli 2017 bagi kami masih terasa malam, karena masih pk 02.38 waktu setempat. Pada bulan itu matahari berada di lintas utara khatulistiwa, sehingga waktu siang akan lebih panjang. Setelah solat subuh kami masih ingin meneruskan mimpi indah sekilas.

Rombongan telah sepakat akan berangkat jam 07.00 waktu setempat, langsung check out menuju rumah mempelai wanita di dalam kota Zhangjiakou, yang akan dilanjutkan hotel atau villa di luar kota tempat resepsi. Kami mengendarai 6 mobil yang kesemuanya berwarna merah menuju kediaman tuan rumah.

Disitu kita sebagai tamu berkunjung ke tuan rumah untuk meminta dan memboyong putrinya agar diijinkan disunting sebagai pasangan hidup. Akad nikah sudah dilakukan beberapa waktu sebelumnya.

Prosesi yang dilakukan, pihak tamu meminta ijin untuk bertamu dengan tujuan akan memboyong putrinya. Meminta ijin pada orang tuanya dan saudara kandungnya. Memang asing bagi kami, tetapi kami bisa memahaminya. Hidangan ringanpun tersaji berupa makanan khas setempat.

Hiasan serta asesoris pernikahan khas china dengan dominasi warna merah menghiasi hampir semua ruangan yang kita tempati. Bahkan di semua perjalanan menuju rumah dihiasi oleh dominasi merah, termasuk lantai dan dinding yang dilewati para keluarga dan tamu.

Acara dilanjutkan dengan perkenalan anggota keluarga, baik keluarga pengantin pria maupun wanita. Perkenalan dilakukan secara singkat namun sudah mencakup semua info penting dalam lingkup silaturrakhim. Foto bersama sang pengantinpun tidak terlewatkan oleh kerabat dan para sobat yang hadir serta menyaksikan, termasuk beberapa sahabat memanfaatkan selfi sebagai gaya foto masa kini.

Setelah acara bertamu usai, kamipun menuju ke lokasi acara inti yang terletak di luar kota sekitar 20 km kearah utara. Namun sebelum kami berangkat, tiba tiba datang serombongan pengamen yang menyanyian beberapa lagu khas china tradisional. Lagu yang dinyanyikan mengingatkan saat kami masih seumuran SD, bermain dan melihat keramaian di klenteng menyaksikan pertunjukan wayang potehi. Pengamen tak diundang sebanyak 6 orang sangat percaya diri ada juga yang menari nari seakan ikut merayakan kegembiraan hari pernikahan, cukup unik serta sedikit menggelikan.

Daerah tujuan yang merupakan lokasi pesta pernikahan ini menyerupai savana dan memang banyak peternak domba, kuda serta onta yang kesemuanya dikemas sebagai obyek wisata. Jarak antara hunian cukup jauh, sekitar 500-1000 m. Hunian bisa merupakan kelompok usaha atau hotel dan villa yang lengkap dengan sarana rekreasi. Dan setiap kelompok hunian memiliki spesifikasi atau unggulan sendiri, sehingga diantara mereka saling isi dan bersinergi satu dengan yang lain. Dan tuan rumah memilih hotel ditengah savana, kamipun menuju ke salah satu lokasi yang berjarak sekitar 1 km dari hunian lain. Sungguh hal yang cukup menantang dan menyenangkan penuh privasi. Semoga kita selalu sehat. (Abk)