hebei

Kisah Lain dari Jalur Sutra 12

Ketika kami masih berada di jalur utama, melihat salah satu hunian yang cukup menarik. Dalam hati kami, hotel itu unik dan sepertinya enak sebagai rekreasi keluarga, dengan kanan kiri masih lapang walau sinar matahari cukup menyengat.

Beberapa meter kedepan, ternyata konvoi mobil merah menuju ke hotel itu. Betapa senangnya, satu lagi impian yang tak terduga menjadi kenyataan. Pintu gerbang yang berjarak sekitar 300 meter dari jalan raya, sudah dihiasi oleh lampion, bendera warna warni serta baling baling kertas hingga beberapa puluh meter depan pintu masuk hotel.

Dalam hati kami betapa panasnya diluar sana. Mengapa panggung dan kursi di halaman hotel ‘dijemur’ begitu saja tanpa terop. Pertanyaan besar yang tidak mungkin kami sampaikan untuk mendapat jawaban. Kami coba menghibur diri dengan jawaban sendiri, enjoy aja apapun yang ada dan dimanapun berada.

Setelah kami keluar dari mobil yang nyaman dan sejuk, kami tidak merasakan sengatan terik matahari. Angin yang bertiup semilir cukup kencang dan sejuk itu mampu melawan sengatan panasnya matahari. Sehingga semakin kuat dan semangat usaha untuk menghibur diri tadi, enjoy aja apapun yang ada dan dimanapun kita berada.

Kamipun check in dan rehat sejenak sambil menikmati kamar yang sejuk tanpa AC serta unik, bagai tempat tidur kuno Mongolian style. Kami bersebelas menempati 4 kamar yang unik dan cukup nyaman. Namun sementara belum bisa selonjor sempurna karena pada tengah hari atau sekitar 2 jam kedepan harus hadir di ‘arena’ terbuka sebagai keluarga untuk resepsi pernikahan.

Unik memang, kalau di negeri kita seakan ‘harus’ memakai tenda atau terop dan memilih di gedung, tetapi disini dibawah terik matahari walau tidak seberapa menyengat. Dan semua tamu yang hadir tidak merasa risih atau ingin berteduh, tetap enjoy dengan matahari musim panas ini serta tiupan angin yang semilir cukup menyejukkan.

Mendekati jam tayang, para tamu undangan seakan berdatangan dengan serentak. Tampaknya walau berlokasi ditengah area padang savanna, mereka tidak mengenal jam karet. Dan merekapun tidak canggung untuk langsung menempati arena resepsi walau tanpa tenda dibawah terik matahari.

Demikian juga kru audio visual, mereka juga sudah siap dengan cheking sound dan dilanjut dengan alunan irama riang yang diselingi alunan romantis. Dengan ‘sekejap’ kursi yang disiapkan untuk para tamu sudah hampir penuh terisi. Kamipun hadir pada deretan kursi terdepan, namun disana tidak ada kursi ‘istimewa’ seperti layaknya disini, tetapi semua kursi sama.

Pada jam yang telah ditentukan, acara resepsi dimulai dan semua hadirin mengikuti dengan khidmat. Acara dipandu oleh MC yang tentu saja kami tidak mengerti bahasa mereka, manun kami coba untuk memahami serta tetap mengikuti dengan seksama. Dan sekali lagi tetap enjoy di tengah terik matahari serta hembusan angin sepoi padang savana. Semoga kita selalu sehat. (Abk)