zhangbei 1

Kisah Lain dari Jalur Sutra 18

Kami berada di daerah Zhangbei pegunungan hijau yang sangat dingin. Gunungnya memang hijau tetapi minim pepohonan yang besar walau tertutup rerumputan dan perdu. Namun menurut info pemilik hotel warna hijau akan berubah putih penuh salju ketika musim dingin dan suhu bisa dibawah nol derajat celsius.

Setelah mengatur barang bawaan kamipun tidak menyia nyiakan waktu untuk ‘survey’ daerah sekitar yang sangat asing bagi kami dan unik. Setelah kami tersambung wifi hotel ternyata posisi desa ini sudah berdekatan dengan perbatasan Mongolia. Sehingga benar sekali udara terasa cukup dingin walau saat itu sedang musim panas dan matahari bersinar cerah. Dan tentu saja saat musim dingin seperti bulan Nopember ini, kondisi disana sangat dingin dan mulai dipenuhi salju.

Kami merasa ‘kaget’, ternyata di hotel ini bisa berjumpa lagi dengan rombongan warga lokal muslim yang sebelumnya berjumpa di kebun bunga saat perjalanan tadi. Mereka berasal dari Hejian dekat Tianjin yang sedang bersafari musim panas sambil dakwah ke beberapa masjid. Kami juga sempat membaca Al Quran bersama mereka walau mereka kurang lancar berdialog karena kami tidak bisa bahasa mandarin dan mereka tidak bisa bahasa inggris

Di halaman hotel sudah dijajakan beberapa ekor kuda dan mobil gocart yang bisa disewa para penghuni hotel. Diantara kami menyewa kuda dan mobil gocart berkeliling area hotel dan sekitarnya. Rombongan kami cukup enjoy dan puas dengan mengendarai kuda dan gocart. Permainan itu kami nikmati sampai menjelang maghrib.

Permainan dan menikmati alam dan udara sekitar, harus segera diakhiri karena sebentar lagi akan mengikuti acara sang pengantin. Kamipun mempersiapkan diri dengan segera walau acara tidak begitu formil. Dan memang setiap undangan yang hadir terkesan santai.

Kami mengadakan pesta syukuran atau semacam honey moon, makan bersama keluarga. Dan tak lupa mengundang rombongan muslim lokal tadi untuk bergabung menyantap barbeque kambing. Dan setelah itu dilanjutkan malam keakraban serta kembang api di halaman parkir hotel

Disini tidak ada acara resmi bagi pengantin, namun sebagai bulan madu pengantin yang berbahagia. Semua yang hadir termasuk tamu hotel yang lain dari Hejian tadi ikut meramaikan malam keakraban. Semua yang hadir tampak ikut berbahagia dan sangat menikmati sekali acara spontanitas yang diadakan pemilik hotel. Diselingi juga dengan karaoke yang didominasi lagu mandarin. Namun salah satu lagunya tidak asing bagi kami karena persis yang dinyanyikan Titik Sandora lagu Dayung sampan, sehingga kami semua bernyanyi versi bahasa Indonesia.

Tidak terasa malam semakin larut, kami semua terlenakan kebahagiaan, menikmati nyanyian, gebyar kembang api dan dihangatkan api unggun. Karena dingin malam semakin mencekam walau sebenarnya saat itu musim panas, kami harus segera mengakhiri dan tidak berlama lama di halaman terbuka. Walau sebagian dari kami masih ingin enjoy disana, namun hembusan angin yang terasa menusuk tulang mengusir kami agar segera masuk ke kamar. Semoga kita selalu sehat. (Abk)