zhang bei

Kisah Lain dari Jalur Sutra 19

Udara dingin yang menusuk sampai di tulang, mengusik tidur kami walau selimut tebal sudah menutup badan kami. Subuh disana saat itu masih menunjukkan pukul 2.47 dini hari. Padahal kami baru bisa memejamkan mata setelah lewat 23.30an. Kami memang baru terbangun sekitar jam 4.00 dan udara didalam kamar cukup dingin walau tanpa AC, karena tertembus suhu udara luar lewat sela pintu ataupun jendela.

Walau kami menggunakan pemanas air, udara dingin mengalahkan suhu water heater saat ambil air wudlu, dan jadilah rasa menggigil. Sehingga memaksa kami untuk menyelimuti diri kembali setelah solat subuh usai.

Maksud hati akan membidik sunrise untuk bahan upload di intagram, namun hembusan angin pagi itu menjadi penghalang hunting momen yang baik itu. Kami baru berani keluar kamar setelah matahari sudah menunjukkan sinarnya. Sehingga kami hanya mendapatkan foto dengan matahari sudah melewati cakrawala.

Kami tidak menyia nyiakan waktu untuk mengitari area sekitar selagi berada disana, karena belum tentu bisa mencapai lokasi yang sangat baik ini lagi. Yang ternyata beberapa minggu setelah kami tinggalkan, tempat itu dijadikan area shotting salah satu stasiun TV sebagai lokasi salah satu episode film dokumenter.

Kami menjelajah area sekitar lokasi 4 hotel yang berada di kawasan itu. Dan kami menempati hotel muslim yang bertanda tulisan warna hijau serta bertuliskan kalimat taukhid. Warna hijau dan kalimat taukhid itu merupakan identitas muslim disana terutama yang terkait dengan makanan halal.

Kami mengitari ke empat hotel dengan jalan santai yang sesekali mengikuti gerakan senam ringan untuk melawan dinginnya udara sekitar yang disertai hembusan angin. Padahal saat musim panas itu suhu sekitar masih 14-180C, apalagi saat ini Nopember 2017, menurut info pemilik hotel sudah mencapai -10 sampai dengan -200C. Begitu juga gunung yang hijau, saat ini sudah terhampar salju sehingga tidak hijau lagi, tampak di dominasi warna putih.

Hembusan angin memang cukup kuat, pantas sekali dibalik bukit banyak sekali kincir angin sebagai pembangkit listrik tenaga angin. Jadi benar benar memanfaatkan kekuatan alam sebagai enerji terbarukan untuk membangitkan enerji yang lebih dibutuhkan, tanpa memakai enerji ‘pancingan’ sebagai penggerak turbin angin.

Breakfast hotel berupa makanan khas daerah Zhang Bei, seperti bakpao tanpa isi serta kue berbentuk silinder seperti semprong dengan sayur dan telur rebus. Nikmat sekali saat disajikan setelah mengeluarkan enerji jalan santai serta dihangatkan dengan teh tanpa gula. Kami pun segera berkemas setelah menyelesaikan makan pagi. Suhu udara dingin sudah mulai pudar dengan semakin naiknya matahari serta penambahan enerji. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak mandi, karena kami tinggal klik saja untuk memakai air panas.

Sekitar pk 10.00 waktu setempat kami harus menuju Beijing. Rasanya agak berat meninggalkan Zhang Bei, alam dan lingkungan yang natural, indah dan mempesona. Hotel sederhana namun cukup menarik dengan variasi Mongolian style. Pemilik hotel yang ramah dan penuh kekeluargaan serta ikut berjamaah ketika kami solat maghrib. Rasanya ingin tinggal lebih lama disitu. Namun hari itu kami sudah harus berada di Beijing.

Saat pamit pisah cukup mengharukan. Tuan rumah seakan juga tidak rela ditinggalkan. Usai foto bersama, rombangan warga lokal muslim dari Tianjin berangakat lebih dulu. Kemudian kamipun segera beranjak pulang setelah mohon diri penuh keakraban dengan pemilik hotel, serta berharap bisa bersua lagi. Semoga kita selalu sehat. (Abk)