masjid dongsi

Kisah Lain dari Jalur Sutra 21

masjid dongsi 1

Kami tiba di Beijing setelah dhuhur dan langsung berbenah ke kamar hotel. Namun kami ingin menikmati makanan ala Pakistan yang berada di sebuah pertokoan yang kami temukan lewat browsing. Untuk mencapai itu kami harus naik taksi, setelah waktu solat dhuhur.

Alkhamdulillah tidak seberapa jauh untuk mencapai pertokoan itu, dan tidak begitu sulit pula mencari resto kuliner Pakistan yang berada di lantai 3. Tempatnya cukup menarik, serta pengunjungnya sebagian besar warga muslim walau sepertinya ada pembeli non muslim yang menikmati makanan ala Pakistan di ibukota China Beijing.

Selanjutnya kami berjalan mencari masjid terdekat, bertanya pada beberapa orang yang kesemuanya menunjukkan arah yang sama. Karena semua perangkat google tidak berlaku atau tidak aktif di negeri tirai bambu ini, sehingga kami tidak bisa juga memanfaatkan google earth ataupun google map. Kamipun mengikuti petunjuk beberapa orang sesuai sarannya.

Kami berjalan cukup jauh, sekitar 2-3 km yang akhirnya menemukan masjid yang sudah kuno dengan penerangan yang cukup redup. Semula kami ragu ketika akan memasuki masjid itu, karena tampak depan bangunan tidak selayaknya masjid. Dan tidak ada jamaah sama sekali yang berada di dalam maupun di luar masjid.

Tetapi ketika kami masuk, keluarlah seseorang dari sebuah ruangan dekat pintu masuk dan segera menghampiri kami. Kami memberikan isyarat kalau akan melakukan solat. Bentuk bangunan seperti halnya rumah khas china pada umumnya, atau lebih khas lagi seperti klenteng. Ada pintu utama yang membatasi dengan area luar, kemudian masuk halaman yang disebelah kanannya terdapat tempat wudlu. Setelah itu masuk gerbang ke dua dalam area halaman masjid, dan sekitar 20 meter lagi baru masuk bangunan masjid yang juga mirip klenteng dengan penerangan yang redup. Di dalamnya terdapat seorang jamaah yang sedang berdoa di sebelah kanan depan.

masjid dongsi 2

Kemudian kami bertujuh solat maghrih dan isya’ jamak ta’dhin dan qoshor serta berdoa. Tak lupa kami sempat berfoto didalam masjid sebagai kenangnan, bahwa di negeri yang terkenal dengan komunisnya ternyata di pusat kota pemerintahan telah berdiri masjid yang sudah cukup kuno. Yang berarti walau China sebagai negara komunis, agama islam bisa tumbuh disana secara wajar.

Kamipun menyapa orang yang berdoa di sebelah kanan depan dengan mencoba berbahasa arab. Tetapi dia malah menjawab dengan bahasa mandarin. Dan kamipun menggunakan bahasa isyarat untuk berpamitan. Kami juga berfoto dengan ‘takmir’ masjid tadi di depan teras masjid. Tak lama kemudian datang seseorang yang terliahat bukan penduduk asli. Dia dari Pakistan yang berkerja sebagai dokter di klinik benerapa meter selatan masjid. Kami bisa berkomunikasi dengan dokter tersebut dengan bahasa inggris, berbincang sedikit tentang islam dan masjid di negeri ini.

Kami puas bisa menemukan masjid di negeri yang berbasis komunis yang ternyata juga memberi kebebasan beragama. Sebenarnya ada rekom dari teman tentang adanya masjid yang cukup besar dan bagus di Beijing, namun kami belum ditakdirkan untuk menemuinya. Setelah itu kami pulang dengan menggunakan MRT dan semacam helicak serta istirahat dengan nyenyak. Semoga kita selalu sehat. (abk)