great wall

Kisah Lain dari Jalur Sutra 22

great wall 1

Setelah semalaman kami tidur nyenyak karena juga kecapaian menelusuri kota Beijing yang ke 2, kamipun bangun dengan keceriaan dan segar kembali. Kali ini kami akan menginjakkan kaki ke maskot dunia The Great Wall. Namun kali ini kami ‘terpecah’ menjadi 2, yang satu menuju Great Wall, yang lain mencari kios souvenir sebagai cindera mata bahwa pernah ke negeri eks tirai bambu itu.

Great Wall yang akan kami tuju adalah BaDaLing yang direkomendasikan dicapai dengan bus wisata. Namun untuk menuju terminal bus ke BaDaLing, kami capai dengan taksi. Untung saja jalanan tidak begitu mecet kecuali saat mendekati BaDaLing.

Kami minim informasi, juga minim komunikasi karena tidak memiliki paket data yang bisa membantu navigasi. Kami banyak menggunakan bahasa ‘tarzan’, karena mereka tidak bisa berbahasa inggris. Sedangkan kami tidak faham ucapan bahasa mandarin mereka.

Disediakan 3 macam tiket untuk menginjakkan kaki di Great Wall. Ada yang full dengan jalan kaki untuk mencapai tembok besar dengan cara mendaki. Ada yang dengan cara naik seperti kereta kelinci sampai gerbang. Ada pula yang plus kereta gantung.

Kami memilih dengan naik kereta kelinci seharga 140 yuan, yang ternyata jalannya sangat menanjak. Beruntunglah kami tidak memilih yang mendaki, sehingga kami bisa sangat memghemat tenaga yang bisa terkuras untuk menapaki tembok raksasa.

Bangunan peninggalan kuno ini memang membuat hampir setiap orang untuk berdecak. Baik tembok maupun situasi sekitar terkesan sangat terpelihara. Kami menapaki sejauh mungkin yang bisa kami jangkau. Dengan penuh orang yang didominasi turis lokal, kami melewati beberapa pos yang didalamnya dipenuhi oleh puluhan orang.

Tidak ada orang yang tanpa selfi, begitu juga kami. Tidak menyia nyiakan kesempatan ini untuk melewatkan berfoto ria dengan berbagai pose dan back griund. Kami terus naik sampai pos terakhir yang mendekati pos kereta gantung. Karena kami tidak diperbolehkan melewati pos terakhir yang berbatasan dengan area kereta gantung.

Puas sekali rasanya sudah bisa menapakkan kaki di tembok raksasa, rasanya kami benar benar sudah ke negeri Cina. Kalau beberapa tahun yang lalu kami stuba ke Guang Zhou dan Shen Zhen rasanya masih belum ke Cina.

Kamipun turun meluncur menaiki kereta kelinci setelah puas menikmati tembok raksasa yang memang pantas dibanggakan, serta meneguk minuman di tengah teriknya musim panas 2017 saat itu. Kami hanya menapaki beberapa ratus meter saja dari 8851 km yang membentang mengamankan negeri Cina dari serangan negara asing. Dan merupakan simbol kekuatan negeri yang berpenduduk terbanyak di duniai ini.

Dengan dipenuhi rasa puas kami berempat pulang ke hotel yang ditengah jalan macet parah sehingga sopir taxinya dengan rasa kesal menyarankan agar pindah taxi jalur lain dengan bahasa isyarat yang sulit dimengerti. Kamipun segera oper taxi untuk jalur yang berbeda sehingga terhindar dari kemacetan yang cukup parah. Kamipun tiba di hotel dan sudah ditunggu untuk segera makan malam di resto muslim seberang hotel. Semoga kita selalu sehat. (Abk)