jalan tol

Kisah Lain dari Jalur Sutra 26 (selesai)

Setelah solat subuh kami berdua sudah di jemput kemenakan yang bekerja di bandara KLIA 2. Kami akan diantar dan dikawal anak dari kakak kami yang bersuami dari Malaysia. Sesudah mohon diri dengan mertua atau orang tua kami serta kakak dan kemenakan kami dari Belanda, kami menuju bandara. Kami berdua memang harus pulang terlebih dahulu dan yang lain masih beberapa hari di Malaysia.

Kami langsung menuju bandara di tempat parkir khusus KLIA 2. Begitu juga urusan boarding, sudah diuruskan teman dari kemenakan kami, sehingga kami tinggal ambil saja. Kami berbincang santai sejenak dengan kemenakan kami di salah satu cafe sambil menunggu waktu. Kami cukupkan sedikit snak yang mengenyangkan untuk bekal sampai nanti tiba di Surabaya.

Saat boarding sudah tiba, kami berpamitan dengan kemenakan sampai pintu boarding. Antrean lancar dan masuk area pemeriksaan imigrasi yang juga lancar. Dan kami duduk dibeberapa kursi khusus sambil menunggu saat diperbolehkan masuk.

Kami termasuk penumpang yang dipersilakan masuk pesawat terlebih dulu. Dan kami mendapat seat di deretan terdepan mungkin karena diatur kemenakan kami yang berkerja di maskapai yang kami tumpangi itu. Pesawat berangkat tepat waktu dan kami nyaman sampai rasa kantuk agak tersentak oleh tawaran pramugari saat mengantar box nasi lemak. Kami terima dan kami meneruskan rasa kantuk kami hingga lelap. Mungkin beberapa hari semangat kami mengalahkan rasa lelah yang ada.

Sekitar setengah jam menjelang landing, kami pun menyiapkan diri. Nasi lemak akan kami santap setelah landing, semuanya lancar termasuk urusan imigrasi serta bagasi.

Kami sudah dijemput anak kedua beserta suami dan anaknya, yang memudarkan rasa lelah ini setelah ditempel sang cucu. Alkhamdulillah kami sudah berada di Juanda dan siap perjalanan darat ke Bojonegoro.

Perjalanan pulang lancar, selama perjalanan rasanya masih terbawa melayang ke Malaysia, ke negeri yang dekat Mongolia, masa lampau Cina dengan Great Wall nya, semua makanan halal di Cina termasuk di resto muslim di ibukota Cina. Semakin jauh melayang, seakan semakin nyata kami masih berada di negeri eks tirai bambu yang sekarang melesat jauh kedepan.

Akhirnya sampailah kami di rumah. Home sweet home, memang tidak ada taranya kalau kita dirumah sendiri walau tak seberapa bagus. Kami bertemu dengan anak cucu yang selalu menghibur walau terkadang agak menyebalkan.

Alkhamdulillah bisa mendampingi orang tua pergi silaturrakhim ke besan dalam keadaan sehat, dan pulang sampai rumah dengan lancar. Kenangan indah  yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, rasa syukur yang tak tehingga selalu kami panjatkan kepadaNya. Semoga kita selalu sehat. (Abk)