Jahatnya Hepatitis

Hari Hepatitis Sedunia 28 Juli

Oleh : dr Achmad Budi Karyono

Besuk lusa 28 Juli ditetapkan sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Namun masih banyak masyarakat tidak atau kurang memahami betapa jahatnya Hepatitis. Sebagian besar tren masyarakat saat ini hanya takut dengan ‘penyakit’ cholesterol dan asam urat, walau mereka tidak konsekuen, karena masih makan bahan yang mengandung unsur keduanya.

Selain itu juga menganggap penyakit Kanker dan HIV/AIDS merupakan penyakit yang paling menakutkan. Dan banyak pula yang tidak memahami, sebenarnya Hepatitis sama atau lebih menakutkan dari keduanya itu. Karena mereka yang mengidap tampak sehat saja dan cara penularannya begitu ‘mudah’. Sehingga perlu kewaspadaan ekstra, agar terhindar penularan. Hepatitis tidak hanya jangkit di negeri kita saja, di semua bagian dunia bisa temukan. Oleh karena itu masyarakat dunia perlu diingatkan, untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap hepatitis.

Hari Hepatitis Sedunia diperingati pada tanggal 28 Juli setiap tahun, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap penyakit hepatitis terutama hepatitis B dan hepatitis C serta meningkatkan pencegahan, diagnosis dan pengobatan.

Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh toxin, zat kimia, obat ataupun infeksi. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan digolongkan hepatitis akut, hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan tergolong hepatitis kronis.

Hepatitis yang terbanyak terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan. Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular. Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan. Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang disalah gunakan, tindik telinga, tusuk jarum yang tidak steril, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bergantian, lendir (berciuman) atau luka yang mengeluarkan darah serta hubungan seksual dengan penderita.

Vaksin untuk mencegah hepatitis B telah rutin direkomendasikan diberikan pada bayi sejak 1991. Kebanyakan vaksin diberikan dalam 3 dosis selama beberapa bulan. Vaksin lebih efektif diberikan pada anak-anak dan 95 persennya memiliki antibodi perlawanan tersebut. Vaksinasi pada saat kelahiran direkomendasikan untuk semua bayi dengan ibu yang terinfeksi. Kombinasi dari hepatitis B immune globulin dan pemberian awal dari vaksin hepatitis B mencegah penularan hepatitis B pada saat kelahiran.

Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan. Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu pengobatan Hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati. Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa).

Dengan memahami bahwa sebenarnya betapa ganasnya hepatitis ini, bahkan bisa ‘dibandingkan’ dengan HIV/AIDS, maka penyakit ini sering disebut ‘The Silent Killer’. Oleh karena itu hindari penyebab utama yang sekiranya terkait dengan cairan tubuh orang yang terpapar, serta berusaha melaksanakan pola hidup sehat dan cegah sedini mungkin dengan vaksinasi yang benar. Sanitasi yang higienis sangatlah diperlukan. Semoga kita selalu sehat.