beijing

Catatan dari Cina

Oleh : St Lawuyan Dr

Perjalanan kali ini meliputi Beijing – Nanjing – Shanghai.
Sebelum berangkat saya diwanti-wanti agar membawa masker karena menurut informasi teman polusinya parah sekali, terutama di pusat kota (daerah Tiananmen). Ternyata langitnya biru dan suasana di Convention Centre yang berdekatan dengan kompleks Olimpic sangat segar, tidak ada polusi sama sekali. Begitupun di Tiananmen dan daerah lain di Beijing.

Agaknya sejak olimpiade tahun 2008, Cina telah merevolusi lingkungan hidupnya. Pemanas listrik batubara digantikan oleh pemanas tenaga surya. Bahan bakar minyak mulai digantikan oleh listrik, teknologi sepeda listriknya maju, kabarnya batereinya bisa tahan 6 bulan. Bengkel sepeda listrik juga banyak dan mengerjakan pekerjaan simple seperti mengganti ban, masalah rem dan lainnya. Tidak heran bila kemudian Toyota bekerjasama dengan Cina untuk produksi mobil listrik dan menyempurnakan teknologi hibridnya.

sepeda cina

Tetapi dibalik itu di Cina disiplin, masih menjadi masalah. Budaya antri merupakan keniscayaan. Baru tiba disana, saya sudah mendapatkan pengalaman antrian diserobot. Ketika keesokan harinya ke Great Wall, kita tetap harus berebut antrian, tiket kereta subway tidak ada nomor tempat duduknya. Ada saja orang yang berusaha menyerobot antrian. Kereta api nya sangat mewah walaupun merupakan bagian dari subway. Demikian juga ketika naik Kereta type G (kereta api terbaik dan tercepat) dari Beijing ke Nanjing, jelas-jelas ada antrian mengular ke belakang, ketika kereta datang, ada saja orang yang tanpa rasa bersalah datang langsung di depan. Demikianpun ketika naik kereta type D (kereta cepat) dari Nanjing ke Beijing walaupun di first class, antrian tetap diserobot.

Selain itu jangan ditanya soal kebiasaan cara ludah, merupakan pemandangan sehari-hari, ludah bertebaran dimana-mana. Demikian juga soal WC, amit-amit, bau pesing tersebar di hampir semua toilet, terutama publik toilet.

Di Shanghai terutama di West Nanjing, suasananya berbeda. Jauh lebih bersih dan tidak berbau. Anak-anak mudanya juga sudah berbeda baik cara berpakaian maupun bertutur katanya, serta penguasaan bahasa Inggrisnya jauh lebih bagus. Sopir bisnya juga ada yang fasih berbahasa Inggris.

steve

Demikianpun soal disiplin berlalu lintas, parah, enak-enak jalan tiba-tiba saja sepeda listrik nyelonong seenaknya di pedestrian. Bahkan ketika saya dibonceng naik motor bensin oleh “brother Cheng” dari masjid ke subway station, lampu merah tidak ada artinya, bagi mereka tidak ada jalur satu arah bagi sepeda motor/ sepeda listrik, semua boleh dilewati. Tidak aturan, naik sepeda motor bagaikan naik sepeda, apalagi yang menggunakan sepeda motor listrik. Helm merupakan barang langka.

Soal handphone, jangan ditanya Oppo dan Xiaomi rajanya. Apple juga bergerai besar dan mewah namun hanya 1, tidak ada dimana-mana seperti Oppo atau Xiaomi ataupun Vivo dan yang lain. Samsung juga ada.

Namun dibalik perilaku masyarakat yang demikian yang belum bisa meninggalkan kebiasaan lama, China sudah sangat siap menjalani revolusi industri 4.0. Bagi penduduk Cina, terutama di Beijing dan Shanghai IT adalah kehidupan sehari-hari. Awalnya saya cukup heran ketika melakukan pembayaran mereka menunjukkan Hapenya dan kasir melakukan scanning barcode. Kartu kredit/ ATM sudah mulai ditinggalkan atau tidak digunakan lagi. Ternyata kalau diperhatikan disemua tempat, gerainya memasang barcode, biru dan hijau (Ali Pay dan WeChat Pay) dan pembeli tinggal menscan barcodenya dan sudah bayar. Hampir sama dengan OVO pay di negeri kita.

Suatu ketika di Shanghai di Gifu Rd, saya melihat ada yang jual roti kayak di Mekkah, tepung ditempelkan di kuali panas, saya sodorkan 10 kuai (yuan), eh dia bingung, terus nunjuk ke barcode scan di dinding tokonya, saya jawab “mei you”, terus dia balikin uangnya dan ketika saya kasih 5 kuai, baru mencari-cari uang dan diberi kembalian 2,5 kuai. Untuk roti tampah seharga 2,5 kuai (5500 IDR) saja mereka bertransaksi dengan barcode!. Ini saya jumpai di hampir kehidupan sehari-hari rakyat Cina non-toursitik. Kalau di daerah tourist dan ditoko-toko, restoran, masih menggunakan kuai/yuan. Bahkan ada toko buah yang menaruh jualannya: “buah yang sudah diplastiki” begitu saja dan ditengahnya di beri barcode biru dan hijau, tidak ada kasir, tidak ada yang nunggu (ada CCTV). Orang mau beli tinggal ambil dan scan barcodenya.

Kesan saya, Cina luar biasa! Despite the people, mereka sudah merajai dunia. Tidak heran bila Trump geram dan memusuhi Cina. Saya ceritakan ini ke anak saya dan katakan beli apa saja merek Cina tidak masalah. Teknologinya sudah semakin di depan.

Jadi bagaimana dengan kita? Masih jauh panggang dari api dan masih terbelenggu dipusaran konsumtiv. Kita belum siap dengan revolusi industri 4.0. Apalagi selalu dijadikan “excuse”, bahwa ini adalah teknologi masa depan yang datang kini. Salah besar! Ini saatnya generasi yang sangat siap dengan revolusi industri 4.0. Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Generasi tua kayak kita, apalagi yang pensiunan birokrat kayak saya, tidak nyandak. Tidak heran bila kemudian timbul aturan-aturan represif kayak tidak boleh foto di Rumah Sakit.

Primordialisme masih mengemuka dimana-mana apalagi di dunia kedokteran. Kita masih terjebak dalam romantisme dan solidaritas masa lalu melupakan clinical performance maupun “Eigenfactor score”, lebih menyukai hura-hura. Dibanyak universitas top, alumni bukan milik fakultas dan mereka diharapkan kontribusinya dalam “giving back” berupa dana untuk riset dan dana untuk beasiswa dari universitanya, bukan fakultasnya.

Semoga kita selalu sehat.