Ekosistem Digital di 2019

aning

Oleh : Dr. Sri Suryaningsum, S.E., M.Si.,Ak.,C.A., CMA. *) 

Oleh-oleh dari Pulau Bangka

Aduhai eloknya kain cual

Sukses kita semuanya

Masuk ekosistem digital

Ketika Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Antonius Hari di Bogor pada hari Sabtu  tanggal 20 bulan 10 tahun 2018 menyatakan bahwa dari 80 bank yang ada, baru ada dua bank yang sudah benar-benar menerapkan layanan digital banking ini di Indonesia. Kedua bank tersebut adalah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) melalui aplikasi digital Jenius dan PT Bank DBS Indonesia (DBS Indonesia) melalui aplikasi Digibank.

Penulis ingin sekali merasakan menjadi nasabah di dua bank tersebut. Karena hal ini berarti perbankan dalam genggaman. Serasa bank milik sendiri. Inilah sensasi yang ingin dirasakan semua pengguna aplikasi digital. Inilah esensi digital banking, mengatur semua keuangan di bank dilakukan sendiri, dari mulai membuka tabungan, mengakses semua produk perbankan seperti halnya membuka deposito, melakukan berbagai transaksi seperti di ATM (lalu lintas uang), mengakses berbagai promo dengan merchant, dan semua aktivitas mengatur keuangan sekendak kita tanpa beban biaya administrasi yang membayangi. Serasa bank tersebut adalah milik kita sendiri. Semua semakin mudah dan murah. Murah? Di bagian tulisan seri ke dua nanti akan penulis ulas.

Kebetulan hari libur, Minggu tanggal 23Desember 2018, penulis berkesempatan jalan-jalan di salah satu mall terbesar di Yogyakarta. Ada dua booth bank, booth yang satunya kosong tanpa pengunjung, hanya dua penjaga dan brosur yang menumpuk, walaupun bank umum besar ini menjadi sponsor di mall ini, di sepanjang elevator terpampang nama bank ini besar-besaran. Boleh jadi karena produknya dipandang hanya produk itu-itu saja. Penulis sendiri tidak mengunjungi karena pernah menjadi nasabahnya. Booth yang satunya lagi ramai pengunjung anak muda, walaupun bank ini tidak  menjadi sponsor di mall ini, tapi ramai. Inilah yang menarik. Berarti semua yang datang mengunjungi booth bank ini sudah memiliki preferensi yang bagus. Kalau penulis sendiri, karena pernyataan OJK terkait digital banking dan sudah dua bulan yang lalu mencari informasi terkait bank ini, yang ternyata mendapat award sebagai bank teraman di Asia selama sembilan tahun 2009 sampai dengan 2017 (Safest Bank in Asia oleh Global Finance). Inilah yang membuat penulis ikut antri ingin menjadi nasabah bank ini. Kebetulan sekali ada booth bank tersebut dan saat jalan-jalan santai di mall.

Tidak sampai 10 menit sudah selesai menjadi nasabah (mendown load aplikasi di hand phone, mengisi identitas di aplikasi, menscan KTP, dan identitas biometrik) dan sudah selesai pula mencoba mengakses produk banknya melalui aplikasi digital banking ini. Memilih produk yang disediakan bank sesuai dana yang kita pilih sendiri. Penulis memilih dan membuka produk bank deposito jangka waktu 1 bulan dan mencoba melakukan top up go pay dengan sangat mudah, bahkan mencoba tiga kali top up dalam 1 menit karena kemudahannya sistem digital yang terpasang di handphone. Fungsi digital banking tentunya lebih dari sekedar m-banking. M-banking sendiri hanyalah merupakan salah satu produk bank yang memiliki fungsi sama dengan ATM (transfer antar rekening dan antarbank, pembayaran tagihan, seperti tagihan kartu kredit, telepon, internet, dan tv berlangganan, pembelian voucher dan e-commerce, informasi rekening dan kurs).

Menggunakan m-bangking memiliki kenikmatan yang sama ketika merasakan beralih dari taksi konvensional berganti menjadi taksi on line. Pada saat taksi konvensional, konsumen dibebani biaya telepon yang lumayan besar karena harus telepon operator, tidak boleh mematikan telepon karena menunggu operator menginformasikan taksi yang akan datang menjemput, dengan segala urusan yang cukup rumit. Pada akhirnya, aplikasi taksi on line menjadi pilihan.

Sensasi digital banking ini hampir sama halnya dengan kemajuan dalam dunia perkembangan transportasi berbasis maskapai penerbangan. Sekarang dengan berbagai aplikasi kesayangan yang tinggal kita pilih, serasa dunia penerbangan adalah milik kita. Kita bisa melakukan apapun, memilih maskapai manapun sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan kita, bisa membatalkan dan mengganti sesuai jadwal, melakukan refund atas pembelian tiket yang karena sesuatu hal membuat kita harus mengubah jadwal, check in on line, dan semua hal kemudahan lainnya. Serasa semua maskapai adalah milik kita sendiri. Inilah hal yang luar biasa tidak pernah terbayangkan sebelumnya, penulis masih ingat betul ketika sembilan tahun yang lalu harus presentasi dalam doktoral koloqium ke Kadir Has University dan Kyoto University harus menghubungi agen tiket di Kopeg UGM tempat yang bagus karena sering mengatur perjalanan ke luar negeri, dan menceritakan run down sehingga agen membuatkan jadwal penerbangan dengan baik.

Setelah lulus kuliah, penulis harus sering pulang pergi Jakarta Yogyakarta, penulis masih berlangganan dengan agen tiket dekat tempat mengajar penulis, UPNVY. Dalam hal ini, penulis harus melakukan komunikasi tidak cukup satu kali, mengambil tiket, membayar, cukup repot juga karena harus menemui agen. Karena kebutuhan mobile maka empat tahun terakhir ini penulis menggunakan aplikasi transportasi berbasis jadwal penerbangan berbagai maskapai, penulis bisa mengatur sendiri semua jadwal penerbangan dengan baik, seperti paparan di atas, bahkan tahun lalu membantu rombongan sesama peneliti mengatur semua jadwal penerbangan dan penginapan ketika harus presentasi di Malaysia dalam suatu sesi pertemuan komunitas peneliti Social Science and Business Research Network. Tidak sampai 10 menit, tiket pergi dan pulang serta penginapan untuk semua rombongan berhasil penulis pesankan dengan sangat mudah waktu itu. Sekali lagi dunia maskapai serasa milik sendiri, inilah sensasi yang diberikan oleh dunia ekosistem digital. Siapa takut? Ternyata sedemikian mudahnya dan pada akhirnya ekosistem digital akan sukses kita lewati.

semoga kita selalu sehat.

*) Dosen Akuntansi UPNVY & Praktisi KJA Sri Suryaningsum