IMG_1136

Tuntaskan Terapi TB

24 Maret sebagai Hari TB se dunia

Oleh : dr achmad budi karyono

Banyak penderita TB yang masih kurang memahami pengobatan yang benar. Padahal pada era ini obat TB dengan mudah bisa didapatkan dengan gratis di sarana kesehatan pemerintah. Berbeda jauh dengan 50 tahun yang lalu, obat TB sulit didapatkan sehingga penularan penyakit ini seakan lebih leluasa. TB merupakan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Tuberculosis. Bakteri tersebut dapat menyerang organ-organ di tubuh kita seperti paru-paru, kelenjar getah bening, kulit, dan banyak organ lain.

Pengobatan TB ini sangat berbeda dengan pengobatan akibat infeksi bakteri yang lain. Karena pengobatan ini memerlukan antibiotik yang spesifik untuk mematikan kuman TB dan pengobatannya harus dilakukan secara rutin dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Misalnya meminum obat TB setiap hari pukul 7 pagi selama 2-3 bulan pertama maka obat yang diberikan harus diminum setiap hari sekitar pukul 7 pagi dan kemudian setelah obat habis harus berkonsultasi dengan dokter untuk melihat perkembangan pengobatan yang sudah diberikan.

Jika penderita tidak melakukan pengobatan sesuai aturan seperti tidak meminum secara rutin atau memberhentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu, maka bakteri TB tidak akan hilang sepenuhnya dari tubuh meskipun penderita merasa keluhannya sudah membaik. Infeksi yang diderita juga kemungkinan akan menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik yang sudah diberikan dan masuk dalam kategori MDR TB (Multi Drug Resistant TB). Jika hal tersebut terjadi maka infeksi TB akan semakin sulit diobati dan waktu yang dibutuhkan untuk pengobatannya juga akan memakan waktu yang lebih lama sekitar 2-2,5 tahun.

Jika seorang penderita TB yang tidak mengkonsumsi obat secara rutin sebaiknya kembali konsultasi ke dokter yang telah memberi pengobatan untuk dapat dilihat apakah penyakit yang dialami sudah membaik atau malah memburuk. Dan tidak menutup kemungkinan akan dilakukan tes resistensi obat untuk mengetahui apakah resisten terhadap obat TB tertentu atau tidak. Dan selanjutnya dapat diberikan obat yang sesuai.

Untuk lebih memudahkan agar tidak lupa mengkonsumsi obat, sebaiknya dapat meminta tolong teman, saudara atau pasangan untuk mengingatkan setiap hari pada jam tertentu atau juga dapat membuat pengingat/alarm di ponsel agar tidak lupa mengkonsumsi obat.

Dalam kondisi inilah beberapa elemen masyarakat bangkit terketuk untuk peduli, yang salah satu aksinya sebagai pengingat minum obat TB yang tergabung dalam Forum Stop TB Partnership di setiap kota. Karena merasa wilayahnya ‘terpinggirkan’ atau menjadi ‘daerah kumuh yang tertinggal’ yang merupakan kesan bila menjadi sarang penderita TB. Oleh karena itu seharusnya semua unsur masyarakat juga harus peduli terhadap keluarga atau warga sekitar yang sedang dalam pengobatan TB, dan berperan sebagai pengingat. Sehingga daerah sekitar akan menjadi bebas terhadap warga dengan penyakit TB dan menuju Indonesia bebas TB. Semoga kita selalu sehat.