hari tanpa tembakau

Hidup (Dengan atau) Tanpa Tembakau

Oleh : dr achmad budi karyono

Hari ini 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau seDunia.

Tembakau banyak dibenci sekaligus banyak yang mencari. Dua kepentingan yang tidak akan pernah ada titik temu dengan segudang alasan yang selalu telak, namun keduanya semakin kencang juga. Argumen atau ‘dalil’ apapun dipakai agar yang selalu mencari ini menjadi kapok, belum bisa ‘mematikan’ dengan alasan apapun juga.

Selain itu tembakau merupakan salah satu komoditi yang sangat menjanjikan dalam hal finasial dan bisnis tembakau ini mampu mencuatkan nama pemiliknya sebagai deretan orang terkaya di negeri ini. Sebagai salah satu contoh, ketika awal tahun 1960-an ada sebuah pabrik rokok yang seakan sebagai industri rumahan, namun setelah dua dekade pabriknya bisa ‘menguasai’ kota dan mengantar pemiliknya sebagai deretan orang terkaya melebihi pengusaha lain.

Tembakau adalah produk pertanian semusim yang bukan termasuk komoditas pangan, melainkan komoditas perkebunan. Produk ini dikonsumsi bukan untuk makanan tetapi sebagai pengisi waktu luang atau ‘hiburan’, yaitu sebagai bahan baku rokok dan cerutu. Tembakau juga dapat ‘dikunyah’. Kandungan metabolit sekunder yang kaya juga membuatnya bermanfaat sebagai pestisida dan bahan baku obat.

Tembakau adalah produk yang sangat sensitif terhadap cara budidaya, lokasi tanam, musim/cuaca, dan cara pengolahan. Karena itu, suatu kultivar tembakau tidak akan menghasilkan kualitas yang sama apabila ditanam di tempat yang berbeda agro ekosistemnya. Produk tembakau sangat khas untuk suatu daerah tertentu dan kultivar tertentu. Akibatnya, macam-macam produk tembakau biasanya dinamai sesuai lokasi tanam. Di Indonesia, macam-macam tembakau komersial yang baik hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh kultivar, lokasi penanaman, waktu tanam, dan pengolahan pasca panen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki kesesuaian dengan kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.

Tembakau hampir seluruhnya dijadikan rokok, dan pemanfaatan tembakau hampir seratus persen berupa rokok. Pada tahun 2000, merokok dilakukan oleh setidaknya 1.22 miliar orang dan sebagian besar merupakan laki-laki. Namun selisih antar gender berkurang dengan meningkatnya usia. Orang miskin justru ‘memiliki’ kecenderungan yang lebih besar untuk merokok, demikian pula masyarakat di negara miskin dan berkembang jika dibandingkan dengan masyarakat di negara maju. Hingga tahun 2004, WHO melaporkan jumlah kematian sebesar 5.4 juta jiwa akibat rokok.

Dampak terhadap kesehatan, berdasarkan WHO, tembakau merupakan penyebab terbesar kematian oleh penyakit yang dapat dicegah. Bahaya penggunaan tembakau mencakup penyakit yang terkait dengan jantung dan paru-paru seperti serangan jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, emfisema, dan kanker (terutama kanker paru-paru, kanker laring, dan kanker pankreas).

WHO memperkirakan bahwa tembakau menyebabkan kematian bagi 5.4 juta jiwa pada tahun 2004. 100 juta kematian akibat tembakau telah terjadi akibat tembakau sepanjang abad ke 20. Tembakau juga penyebab kematian bayi dan janin di seluruh dunia karena orang tua perokok.

Perokok pasif meski tidak merokok, dapat mengalami kanker paru-paru. Di Amerika Serikat 3000 orang dewasa meninggal akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Setidaknya 46.000 orang perkok pasif mengalami penyakit jantung dan meninggal.

Jumlah perokok secara umum berkurang dengan meningkatnya kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara. Dengan kata lain, jumlah perokok berkurang seiring dengan bergeraknya suatu negara menjadi negara maju. Di Amerika Serikat, jumlah perokok telah berkurang setengahnya secara persentase sejak tahun 1965, dari 42% menjadi 20.8%. Sedangkan di negara miskin dan negara berkembang, jumlah perokok justru meningkat secara persentase per tahunnya. India dan China, dengan penduduk yang sangat berlimpah dan IPM yang tidak terlalu tinggi menjadikan keduanya pasar bagi rokok dari seluruh dunia. China sendiri telah menjadi produsen rokok terbesar di dunia dengan memproduksi 2.4 triliun batang rokok per tahun atau setara dengan 40% produksi total dunia.

Itu hal ikhwal tentang tembakau (dan rokok), sampai dunia memperingatkan semua masyarakat dengan gambaran seperti diatas. Semua tergantung dari diri sendiri, apa yang harus dilakukan. Dan semua permasalahan di dunia ini penuh pro dan kontra, setiap orang mengetahui bagaimana menjaga hidup sehat. Semoga kita selalu sehat.

 

Sumber : Wiki