idi2019

IDI Menyehatkan Bangsa

20 Mei 2019 diperingati sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia dan Hari Ulang Tahun Ikatan Dokter Indonesia, yang semakin hari bertambah PR nya untuk selalu berpartisipasi terhadap kesehatan seluruh rakyat di seluruh pelosok negeri. Berikut ini langkah nyata IDI dalam menjaga kesehatan pada kehidupan berbangsa untuk generasi mendatang di era revolusi industri 4.0. Semakin banyak tantangan insan kesehatan di era ini dengan berubahnya era bermedia sosial yang kompleks, yang kurang dibekali kesiapan penggunanya dengan kemampuan yang terkait.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu segera ditangani secara bersama-sama oleh semua pihak.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Masalah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil (48,9%), Berat Bayi Lahir Rendah atau BBLR (6,2%), balita kurus atau wasting (10,2%) dan anemia pada balita. Stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.

Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Penurunan stunting penting dilakukan dengan pendekatan multi-sektor melalui sinkronisasi program, baik program nasional, lokal, dan masyarakat di tingkat pusat maupun daerah. Setiap Kab/Kota diharapkan dapat melakukan intervensi penurunan stunting secara terintegrasi dan konvergen.

Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis atau penyakit tidak menular kedepannya. Penyakit tidak menular merupakan beban penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia dan pembiayaan yang mahal. Untuk itu diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit yang difokuskan pada deteksi dini, upaya preventif dan edukasi faktor risiko penyakit tidak menular di masyarakat.

Menurut WHO, pada tahun 2016 penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab kematian 41 juta (71%) dari seluruh kematian didunia, terdiri dari penyakit jantung dan pembuluh darah 17,9 juta (31%), penyakit saluran pernapasan kronik 3,9 juta (6,8%), kanker 9 juta (15,6%), dan diabetes melitus 1,6 juta (2,8%) dan PJPD lainnya sebesar 5,9 juta (16%).

Di wilayah Asia Tenggara, PTM merupakan penyebab 51% kematian pada tahun 2003 dan menimbulkan DALYs (Disability Adjusted Life Years) sebesar 44% sedangkan tahun 2010 penyebab 55% dari 14,5 juta kematian.

Di Indonesia, berdasarkan hasil Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi sebesar 25,8%, stroke 12,1 per 1000 penduduk, diabetes melitus 6,9%, asma 4,5%. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPDK) 3,8%, kanker 1,4 per 1000 penduduk, hipertiroid 0,4%, penyakit jantung koroner 1,5%, gagal jantung 0,3%, gagal ginjal kronik 0,2%, batu ginjal 0,6%, penyakit sendi/rematik 24,7%, kebutaan pada penduduk umur 6 tahun 0,4% dan katarak pada penduduk semua umur 1,8%. Pada penduduk usia 5 tahun, gangguan pendengaran sebesar 2,6%, ketelitian 0,09%, serumen prop 18,8% dan sekret di liang telinga 2,4%.

Terdapat target global dalam pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) tahun 2025:

  1. Pencegahan kematian akibat PTM (Penyakit jantung kanker, diabetes melitus atau penyakit paru kronik) sebesar 25%.
  2. Penurunan konsumsi alkohol 10%.
  3. Penurunan kurang aktivitas fisik 10%.
  4. Penurunan tekanan darah tinggi 25%.
  5. Penurunan konsumsi tembakau 30%.
  6. Peningkatan diabetes melitus/obesitas 0%.
  7. Penurunan asupan garam 30%.
  8. Cakupan pengobatan esensial dan teknologi untuk pengobatan PTM 80%.
  9. Cakupan terapi farmakologis dan konseling untuk mencegah serangan jantung dan stroke 50%.

Pengendalian penyakit tidak menular dan faktor risiko yang menjadi pemicunya harus dilakukan secara komprehensif, terintegrasi, dan terpadu baik di level individu maupun di masyarakat. Implementasi kebijakan, program, dan pelayanan PTM perlu mendapat dukungan, misalnya melalui gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), pelayanan terpadu PTM di fasilitas kesehatan, dan pos pelayanan terpadu PTM sebagai upaya kesehatan berbasis masyarakat.

Maka pada akhirnya dari beberapa uraian diatas kita semua bisa melihat bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dalam laporan UNDP (United Nation Development Programme report) tahun 2016 menurun ke peringkat 113 dari posisi 110 di tahun 2014.

Pembangunan nasional di bidang kesehatan bukan hanya tugas Kementerian Kesehatan melainkan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Ikatan Dokter Indonesia senantiasa ikut membantu Pemerintah dalam upaya meningkatkan angka harapan hidup dan kualitas hidup manusia Indonesia melalui penurunan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit.

Diantaranya melalui kampanye dan edukasi hidup sehat dan pengendalian risiko penyakit, skrining gizi, perilaku hidup sehat seperti beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, tidak merokok, memeriksakan kesehatannya secara rutin, menjaga higienitas pribadi dan keluarga serta kesehatan lingkungan.

Oleh karena itu, sebagai wujud komitmen Ikatan Dokter Indonesia terhadap permasalahan di atas, maka pada momentum Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) dan Hari Ulang Tahun IDI tahun 2019 ini, program dan kegiatan pengabdian masyarakat IDI lebih diarahkan pada penanggulangan masalah stunting, penyakit tidak menular dan Kesadaran hidup bersih, sehat untuk mencegah penyakit dalam upaya mendukung pembangunan SDM yang sehat, produktif dan berdaya saing yang bertujuan menyiapkan generasi emas Indonesia dan pada Harapannya IDI di setiap level baik di pusat, wilayah dan cabang dapat mengambil inisiatif melakukan aksi sosial dalam rangka HBDI ini di daerahnya.

Semoga kita selalu sehat.

Sumber : IDI