komunikasi sehat

Lintas Mutiara 367

Komunikasi Sehat

Oleh : BundaSriMin

Pada laman konsultasi keluarga di Majalah, seorang ibu konsultasi pada psikiater tentang keadaan rumah tangganya, bahwa ia sudah menjalani kehidupan bersama suami selama lima belas tahun, dan dikaruniai 3 orang anak laki laki, di rumah ia cantik sendiri, karena yang lain semuanya laki laki, dan ia sangat bersyukur diberi pendamping yang mapan secara ekonomi serta anak-anak yang cerdas.

Sang psikiater bertanya, “apa yang akan Ibu konsultasikan bila sudah mendapatkan kesempurnaan dalam hidup”.

Jawab Sang Ibu “sebelum menikah saya pernah bekerja, begitu berkeluarga kami berkomitmen, saya di rumah mengurus anak sedangkan suami yang bekerja mencari nafkah, dan alhamdulillah secara materi kami tidak kekurangan apapun, karena saya bukan tipe wanita yang suka berbelanja barang barang yang terbilang mahal”,

Lanjut cerita sang Ibu, selama tiga tahun terakhir ini, aku merasa kesepian, suami berangkat pagi pulang malam sudah lelah dengan aktivitasnya sendiri, dan anak anak sekolah full day, kami hidup bersama dalam satu rumah, makan dan tidur bersama secara fisik, tetapi  batin merasa tidak bersama, saya tidak bisa bercerita tentang aktivitasku, demikian juga suami tidak pernah berkisah dengan pekerjaannya, semua berjalan sendiri sendiri, bagai rel kereta api yang tak akan pernah bertemu ujungnya.

Permasalahan sang ibu tersebut sebenarnya sederhana, yaitu memudarnya komunikasi sehat dalam kehidupan berumah tangga, akan tetapi  permasalahan itu dialami oleh kebanyakan keluarga di Indonesia, karena menganggap hal itu sudah biasa, sang suami sibuk dan nyaman dengan teman atau pekerjaannya, terkadang lupa ada perempuan setia menunggu di rumah yang sangat butuh perhatian dan bimbingannya, karena fitrah wanita untuk dibimbing dan dipimpin, sebaliknya sang perempuan sudah asyik di rumah sampai lupa merawat dirinya, dan baru sadar setelah ada yang mengisi ruang kosong di hati pasangannya

Komunikasi yang sehat haruslah didasari oleh adanya keimanan padaNya, terjalin dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga memunculkan sikap saling pengertian, saling memuji, saling menasehati dalam kebaikan, tidak ada yang mendominasi, berusaha tampil menarik pada pasangannya, bila ada yang mengganjal di hati segera dibicarakan dengan kerendahan hati, tidak dengan emosi, dan saling mendahului meminta maaf.

Begitu indahnya komunikasi yang sehat, karenanya tidak ada dendam atau buruk sangka, dan merupakan kunci kebahagian berkeluarga.

Ya Allah ampunilah kekhilafan kami, amiin. Semoga bermanfaat. Semoga kita selalu sehat.

Purwosari, 12 Juni 2019