IMG-20190819-WA0005

Sisi Lain Jembatan Gantung 6

Tungku Primadona Energi Masakku

Oleh : YuFit

Dizaman modern, memasak ditungku tetap menjadi trend.

Kebiasaan yang takkan bisa dialihkan oleh para ibu-ibu rumah tangga adalah memasak makanan untuk sehari-hari. Kali ini kita akan menengok bagaimana tradisi memasak didaerah tempat tinggalku, bahkan dirumahku sendiri.

Disetiap pagiku, akan selalu tercium bau asap dari pembakaran kayu. Dan yang tak lain dan tak bukan asal asap itu memang hasil dari pembakaran kayu pada tungku tanah liat.

Tungku adalah sebuah media atau alat yang digunakan untuk memasak sejak zaman dahulu dan dibuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai media untuk memasak. Tungku bisa juga disebut dengan angklo dan termasuk kedalam jenis atau golongan gerabah. Namun anglo merupakan sebuah tungku portebel.

Tungku tanah liat ini pada umumnya dibuat oleh seorang pengrajin gerabah, namun tidak demikian dengan nenek saya sendiri. Tungku yang saat ini masih berjajar rapi dirumah bukanlah tungku yang dibuat oleh seorang pengrajin gerabah. Namun tungku tersebut adalah hasil buatan nenek saya sendiri. Dengan bermodalkan kayu bambu dan tanah liat yang diambil langsung dari sungai yang terdapat didepan rumah saya.

Untuk pembuatan rangka tungku cukup menggunakan bambu yang dipotong kecil kecil, kemudian mulailah dibuat bentuk tungku dengan menggunakan tanah liat yang sebelumnya sudah dilumat dengan air sehingga kepadatannya bisa disesuaikan. Dan begitupun juga dengan ukuran tungku dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhan masing masing.

Bentuk dari tungku tanah liat ini kebanyakan sama antara satu dengan yang lain, yaitu tungku memiliki dua lubang yang besarnya hampir sama. Lubang tersebut terletak pada atas dan samping depan tungku. Bagian lubang tungku digunakan sebagai tempat wadah atau alat tempat memasak dan bagian lubang samping depan digunakan untuk memasukkan kayu bakar dan juga ruang jalannya api.

Kayu yang dimasukkan ke tungku haruslah kayu yang sudah benar benar kering agar saat dibakar api bisa menyala dengan baik dan stabil saat digunakan memasak makanan. Kayu terbakar didalam tungku sedikit demi sedikit dan saat api mulai keluar dari mulut tungku, maka kayu akan kembali didorong kedalam tungku agar api kembali menyala normal dan dapat melakukan pembakaran dengan baik untuk memasak.

Pada zaman yang sudah berkemajuan atau modern ini mungkin bagi kebanyakan orang memasak dengan tungku tanah liat atau angklo akan sangat ketinggalan zaman. Namun, bukan berarti orang yang saat ini masih memasak dengan tungku tidak memiliki kompor gas, mereka memiliki kompor gas juga dan sesekali juga menggunakannya untuk memasak. Tetapi memang dalam kesehariannya ibu ibu disini masih suka menggunakan tunggu untuk memasak sehari hari. Bukan hanya untuk menanak nasi namun juga untuk memasak sayur dan juga menggoreng ikan atau lauk pauknya.

Ternyata ada alasan tersendiri kenapa tungku tanah liat masih digunakan untuk memasak setiap hari disini, padahal lebih mudah memasak memakai kompor gas atau kompor elpiji yang lebih praktis dan bersih. Alasannya karena memang orang disini merasakan ada aroma atau kemantapan masakan yang berbeda saat memasak menggunakan tungku. Misalkan saja saat menanak nasi, jika nasi dimasak dengan tungku akan lebih memiliki tekstur yang pulen dan empuk saat dimakan. Selain itu nasi hasil masakan ditungku akan lebih memiliki aroma yang khas apabila dibandingkan dengan nasi yang dimasak di kompor atau di rice cooker.

Jadi bukan berarti orang disini ketinggalan zaman tetapi memang mereka lebih suka dan lebih nyaman menggunakan tradisi atau kebiasaan memasak dengan tungku tanah liat atau angklo.

Maka saat berada didapur orang orang disini, tak jarang ditemui dinding yang hitam (langes, jawa) dan juga atap rumah yang berwarna hitam, warna hitam itu bukanlah faktor dari cat hitam namun warna hitam tersebut disebabkan oleh asap dari tungku yang membakar kayu secara terus menerus menumpuk setiap hari pada saat orang memasak.

Tetapi meskipun memasak menggunakan tungku menimbulkan efek seperti diatas, sama sekali tidak mengurangi keinginan atau kebiasaan dari masyarakat memasak dengan tungku. Bahkan rasa perih pada mata karena asap saat meniup kayu didalam tungku agar api menyala tak jadi alasan bagi orang orang untuk memasak dengan tungku tanah liat.

Dari uraian diatas, mungkin kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa meskipun kita hidup di zaman yang modern tak seharusnya kita melupakan sejarah atau tradisi. Yang mana meskipun kita sudah hidup dengan gaya serba berkemajuan, disekitar kita masih ada orang orang yang begitu menjaga sejarah atau tradisi. Bagaimanapun juga kita harus saling menghormati dan menghargai. Karena tidak semua yang bagi kita itu modern, lebih baik atau lebih nyaman dapat berarti sama bagi orang lain. Apalagi dilingkungan desa yang masih asri dan masih belum sepenuhnya terjamah oleh canggihnya alat teknologi dan informasi.

Semoga kita selalu sehat, dan selalu bersyukur akan nikmat