pencil_sketch_1568875951788

Serial : Sisi Lain Jembatan Gantung 15

Oleh : Yu Fit

Memakan tempe goreng atau aneka olahan dari tempe yang lain mungkin sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi kita sehari-hari. Bahkan tempe merupakan suatu makanan yang siapapun orang Bojonegoro mungkin pernah mengolah dan memasaknya untuk dijadikan lauk setiap hari.

Hampir disetiap daerah atau desa di Bojonegoro ini terdapat orang yang memang memiliki usaha sebagai pembuat tempe. Cara membuatnyapun kebanyakan masih dengan cara yang tradisional dan biasanya usaha ini memang turun temurun. Karena tidak semua orang bisa menerapkan ilmunya dalam membuat tempe. Ada beberapa rahasia yang mungkin dimiliki oleh pengusaha tempe sehingga tempe dapat matang sempurna seperti yang digarapkan dan menghasilkan cita rasa yang enak.

Kalau lauk daging mungkin orang ada yang makan atau menghindarinya, namun kalau tempe, wah pasti semua orang suka dan bisa mengonsumsinya. Semua bahannya alami dan juga dibuat dengan cara yang masih aman juga tanpa obat kimia ataupun pengawet.

Sudah sekitar 3 tahun terakhir ini tetanggaku belakang rumah, di sekitaran Jembatan Gantung ini, memiliki usaha pembuatan tempe, seperti yang aku ceritakan dari awal bahwa biasanya pembuat tempe ini secara turun temurun. Yah benar saja dulunya orang tua tetanggaku ini adalah pembuat tempe yang sudah ada sejak lama dan hasil tempe buatannya sudah dipasarkan ditoko-toko yang ada didekat rumah dan juga sampai didesa tetangga. Tempenya enak dan rasanya juga tidak ‘eneg’ seperti tempe kebanyakan yang dijual dipasar.

Setiap pagi tatanggaku yang membuat tempe (Mbak Marmi) selalu mengambil sekam padi hasil penggilingan padi yang ada tepat ditimur rumahku yang kebetulan adalah tempat penggilingan padi yang selalu aktif pada saat panen raya. Mbak Marmi mengambil satu sak sekam setiap harinya dan kemudian diboncengnya dengan sepeda onthel berwarna merah muda milikinya. Penggunaan sekam ini ternyata sangat penting dalam proses pemasakan bahan tempe, yaitu sekam dijadikan bahan bakar pada tungku bersama dengan kayu agar hasil pembakarannya lebih maksimal dan panas. Dengan menggunakan sekam, kayu yang digunakan dalam proses pembakaran juga bisa sedikit lebih hemat dari pada tidak menggunakan sekam. Dan dengan api yang lebih panas akan semakin bisa mempercepat proses merebusan kedelai sebagai bakal utama tempe.

Setiap pagi sehabis sholat subuh, Mbak Marmi sudah menimbang kedelai yang akan dijadikan tempe untuk dijual keesokan harinya. Memang untuk produksinya sendiri belum begitu besar, karena memang usaha tempe ini merupakan usaha skala rumahan yang bertujuan untuk memenuhi keperluan tempe bagi masyarakat sekitas Jembatan Gantung ini dan juga masyarakat desa tetangga.

Dalam satu hari, kedelai yang diperlukan untuk produksi antara 10-20 kilogram dengan cara pengolahan yang masih sangat tradisional. Diawali dengan proses perendaman biji kedelai yang masih mentah selama semalam lebih antara 12-18 jam hingga kulit kedelai mengelupas dan kemudian dicuci biji kedelainya yang dilakukan secara manual dengan tenaga tangan dan dialiri air dari keran ‘sanyo’ hingga beberapa kali pembilasan sampai kedelai dalam kondisi bersih dan sudah siap untuk dimasak. Untuk selanjutnya kedelai direbus hingga matang dan saat matang ditiriskan dan dibubuhi ragi untuk melanjutkan proses fermentasi pada tempe.

Tempe pada umumnya bisa diolah menjadi banyak sekali olahan makanan, mulai dari tempe goreng, tempe bacem, pepes tempe hingga dimasak menjadi lodeh atau semur tempe. Dan tempe juga sangat cocok untuk semua lidah. Bahkan tempe yang ‘bosok’ pun masih diperlukan untuk bahan makanan tertentu.

Yang dulunya tempe sering dibungkus dengan daun pisang atau batang pisang , namun saat ini kebanyakan sudah menggunakan kantung plastik sebagai bungkus tempe. Padahal rasa tempe dengan daun pisang lebih enak dan lebih tahan lama dan tidak mudah busuk.

Karena sulitnya mencari stok daun pisang dalam jumlah yang banyak, Mbak Marmi lebih memilih membungkus tempe yang akan dijual dengan menggunakan bungkus kantong plastik.

Tempe yang sudah siap dijual dibandrol dengan harga 2.000,00 dan ada harga khusus bila membeli 3 biji maka harganya hanya 5.000 rupiah.

Pada tempe terkandung banyak gizi yang baik untuk tubuh dan juga enak rasa. Kandungannya meliputi energi, protein, fosfor, natrium, lemak, karbohidrat, serat dan kalsium. Dan untuk mendapatkan tempe juga sangat mudah karena banyak toko dan warung yang menjual tempe.
Dengan produksi tempe, bisa mendukung roda kehidupan petani kedelai, selain kontribusi dalam mencukupi gizi serta menyehatkan masyarakat sekitar yang bisa didapat dengan harga ekonomis.

Semoga kita selalu sehat, dan selalu bersyukur akan nikmat.