imgp0037

Batik Semakin Apik

Setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional, hal ini sebagai tonggak sejarah untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO untuk Indonesia. Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik.

Pemilihan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober berdasarkan keputusan UNESCO yaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia.

Batik merupakan salah satu karya leluhur bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan, ada yang menyatakan sejak zaman Mojopahit. Sejak saat itu kerabat kerajaan memang mengenakan bahan batik sebagai pakaian kebesaran. Setiap kerajaan memiliki motiv khas tersendiri yang melambangkan dari daerah atau kerajaan mana mereka berasal. Namun batik pada periode itu hanya dimiliki kawasan Nusantara saja. Sehingga batik memang dimiliki bangsa Indonesia sejak dahulu kala

Sejak saat itu sampai awal tahun 1900an semua batik dibuat dengan cara membatik manual atau handmade dengan langsung melukis walau sudah ada pola tertentu. Sekitar tahun 1920an karena suatu ‘efisiensi’, atau mungkin perlu produksi yang banyak dan cepat, mulai dikenal ‘batik cap’ atau batik yang tidak dibatik.

Pada era awal kemerdekaan sampai akhir orde lama, masyarakat seakan agak enggan mengenakan batik, seakan terkesan kuno atau kurang modern, walau beberapa masyarakat desa masih mengenakan batik dengan sebutan jarit. Kawula muda lebih memilih berpakaian rok atau celana untuk sehari harinya. Sehingga batik seakan terpinggirkan bahkan agak terlupakan.

Pada masa orde baru batik mulai menggeliat, antara lain digunakan sebagai salah satu seragam nasional. Beberapa perancang mode pun mulai bangkit dengan memasukkan unsur batik sebagai bahan kreasinya dan ternyata lebih mengangkat prestasinya. Begitu juga sebagai penunjang pariwisata, batik khas daerah mempunyai nilai tawar yang tinggi serta berperan sebagai magnet destinasi wisata.

Disaat batik menduduki posisi diatas itulah Negara tetangga kita mengklaim batik menjadi salah satu karya budayanya. Tentu saja seluruh elemen anak bangsa ini menentang keras klaim tersebut, sehingga hal yang sebelumnya belum terfikirkan, saat itu segera menindak lanjuti registrasi kepemilikan batik ke badan dunia. Dan bersyukur UNO atau PBB segera merespon dengan baik dan semestinya serta menetapkan batik merupakan budaya Indonesia.

Saat ini hampir setiap Kabupaten menghidupkan batik khasnya yang sudah sekian lama tenggelam. Mereka mulai mengangkat batiknya dengan dipoles kreasi para muda saat ini. Sehingga sinergititas antara karya pusaka dengan remaja era android ini semakin diterima semua lapisan generasi sebagai penunjang kehidupan ekonomi daerah setempat.

Hari batik seharusnya kita peringati agar semua lapisan masyarakat ikut memiliki batik sebagai budaya bangsa, bukan milik bangsa lain yang saat itu akan diakuinya. Kepedulian kita terhadap batik merupakan salah satu alat pemersatu bangsa agar tetap dipertahankan dan tidak jatuh ketangan bangsa lain. Kebersamaan, yang antara lain dalam kepemilikan batik ini, akan memperkokoh persatuan dan kekuatan bangsa tercinta ini. Pakailah batik dan berbanggalah, sebagai pakaian identitas bangsa Indonesia.

Semoga kita selalu sehat.