IMG-20191028-WA0017

Memperkuat Indeks Ketahanan Pangan Bagi Kabupaten Bojonegoro

Oleh : Dr. Sri Suryaningsum, S.E., M.Si., Ak., C.A.

Kepala Pusat Penelitian, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, UPN “Veteran” Yogyakarta

Indeks Ketahanan Pangan secara nasional terbagi menjadi 6 tingkatan kelompok yang terdiri dari kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3, kelompok 4, kelompok 5, dan yang terbaik adalah kelompok tingkat 6. Kabupaten Bojonegoro termasuk dalam kelompok tingkat 6. Hal ini berarti bahwa wilayah kabupaten Bojonegoro merupakan kelompok kabupaten yang memiliki ketahanan pangan paling baik tingkat nasional. Bojonegoro berhasil meraih rangking 30 Indeks Ketahanan Pangan dari 416 kabupaten di seluruh Indonesia pada tahun 2018. Ini adalah prestasi yang bagus, Bojonegoro meraih total skor 81.40. Nilai ini di atas kabupaten di sekeliling Bojongoro, Blora memiliki Indeks Ketahanan Pangan dengan skor 81.30 (rangking 32), Tuban memiliki IKP dengan skor 78.61 (rangking 80), Ngawi memiliki skor 79.37 (rangking 65), Jombang memiliki skor IKP sebesar 80.13 (rangking 53). Indeks Ketahanan Pangan (IKP) disusun oleh Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian. IKP merupakan penyesuaian dari indeks yang telah ada berdasarkan ketersediaan data tingkat kabupaten/kota.
Ada sembilan indikator yang digunakan dalam penyusunan Indeks Ketahanan Pangan. IKP sendiri merupakan turunan dari tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan. Ketahanan Pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan suatu wilayah beserta faktor-faktor pendukungnya, telah dikembangkan suatu sistem penilaian dalam bentuk IKP yang mengacu pada definisi ketahanan pangan dan subsistem yang membentuk sistem ketahanan pangan.
Skor IKP bersifat dinamis sehingga pembaharuan akan dilakukan setiap tahun untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai oleh suatu wilayah sebagai hasil dari intervensi program dan kegiatan yang dijalankan oleh pemerintah. Kabupaten Bojonegoro bisa menuju target 10 besar nasional Indeks Ketahanan Pangan dengan meningkatkan program-programnya. Program-program tersebut berbasis pada tiga hal yaitu tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Ketiga aspek ini harus didukung oleh ketersediaan data yang tepat, cepat, dan akurat. Ketersediaan data di kabupaten Bojonegoro bagus karena didukung oleh Informasi Teknologi dan keterbukaan data publik yang sudah berjalan dengan baik. Ketersediaan data tersedia secara rutin untuk periode tertentu baik data bulanan maupun data tahunan.
Program-program yang dapat ditingkatkan oleh pemerintah Kabupaten Bojonegoro sesuai dengan program peningkatan Indeks Ketahanan Pangan adalah peningkatan produksi pangan dan penganekaragaman konsumsi pangan hal ini dilakukan untuk mengatasi sebaran produksi pangan yang tidak merata dan keterbatasan akses pangan. Peningkatan penyediaan fasilitas layanan air bersih dan peningkatan sosialisasi penyuluhan tentang gizi dan pola asuh anak. Peningkatan penyediaan lapangan kerja padat karya, redistribusi lahan, pembangunan infrastruktur dasar, pemberian bantuan sosial yang efisien. Selain itu ada program yang secara tidak langsung akan meningkatkan IKP adalah dalam hal peningkatan edukasi literasi pemanafaatan keuangan bagi yang memiliki keterbatasan akses finansial.
Implementasi peningkatan aspek ketahanan pangan dalam ketersediaan perlu memperhatikan tingkat produksi pangan, misalnya dalam hal produksi sayur yang dihasilkan. Kabupaten Bojonegoro bisa memperkuat program penanaman sayur kacang panjang, tomat, terong, dan lain sebagainya yang produksinya perlu ditingkatkan. Produksi sayur kacang panjang di Bojonegoro masih kekurangan sebanyak sekitar 3.000 ton, produksi sayur terong masih kurang sekitar 1.600 ton, produksi tomat masih kurang sekitar 4.600 ton, dan lain sebagainya yang bisa dipetakan dari hasil produksi seluruh tanaman pangan. Pemetaan kekurangan produksi sumber pangan ini sangat penting dalam hal strategi peningkatan program-program kegiatan peningkatan produksi yang pada akhirnya akan tercapai ketersediaan produksi pangan yang optimal bagi Kabupaten Bojonegoro. Ini merupakan salah satu langkah strategis Kabupaten Bojonegoro untuk meraih sepuluh besar Indeks Ketahanan Pangan. Sukses selalu Bojonegoro.
Semoga selalu sehat.