IMG_20190929_194536_492

Pasang Surut Sungai Pacal

Serial : Sisi Lain Jembatan Gantung 20

Oleh : YuFit

Bila musim kemarau tak ada air mengalir disungai, dan bila musim hujan air sungai meluber hingga menyapa kota.

Ya mungkin kurang lebih seperti itulah istilah yang dapat menceritakan kondisi air sungai yang ada pada saat kemarau dan musim penghujan.

Bulan ini adalah bulan di musim kemarau, yang mana dimana-dimana ditemui daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih dan layak untuk digunakan dalam kebutuhan hidup sehari-hari.

Tak jauh beda dengan diwilayah lain, kehidupan disisi Jembatan Gantung ini, tepatnya disekitar tepi sungai pacal ini juga mengalami kekeringan. Karena kondisi sungai yang airnya mulai mengering dan kondisi air juga sangat kotor dan tak layak untuk digunakan.

Tetapi untunglah saat ini hampir semua rumah disisi Jembatan Gantung sudah memiliki fasilitas pompa air tenaga listrik untuk mendapatkan air bersih tanpa harus mengandalkan air dari sungai. Namun bagaimanapun juga kondisi sungai yang mengering memberikan dampak yang besar untuk warga sekitar, karena pompa air yang awalnya sumbernya lancar kini mulai pelan dan terkadang ada beberapa rumah yang airnya tidak keluar dari keran.

Jika hal tersebut terjadi maka orang-orang disini akan mengambil air dari sumur manual atau menimba dari sumur besar yang airnya diperoleh dengan cara memompa sumur atau menimba dengan bantuan tali dan timba kecil.

 

Kejadian seperti ini sudah biasa dialami oleh masyarakat sekitar Jembatan Gantung sejak lama dan bahkan sudah sejak jaman leluhur. Karena memang musim kemarau bergulir dan terjadi setiap tahun.

Maka sudah bukan menjadi hal yang asing atau mengagetkan bila sulit sumber air dialami oleh warga sekitar Jembatan Gantung ini.

Bermodalkan jerigen plastik atau bak plastik yang agak besar digunakan para ibu-ibu untuk mengangsu air hasil menimba dan kemudian dibawa pulang kerumah untuk digunakan dalam kebutuhan air sehari-hari. Untuk lokasi sumur besar pun tak jauh dari rumahku hanya sekitar 100 meteran saja dan ada juga sumur timba yang lain milik warga sekitar sehingga untuk pengambilan air bersih bisa diperoleh sesuai dengan lokasi terdekat.

Tak semua orang dilingkungan ini akan mengambil air dari sumur timba, ada juga yang memilih memperbarui atau menambah pipa saluran airnya untuk lebih dalam agar bisa mencapai titik sumber air yang ada. Namun itupun membutuhkan biaya yang cukup mahal lagi bagi orang disini. Jadi dari pada harus mengeluarkan banyak anggaran, orang disini lebih berminat memilih mengambil air dari sumur timba yang masih tersedia cukup airnya. Sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk keperluan sehari-hari tidak terpakai untuk membayar jasa pendalaman titik pipa pompa air.

Kegiatan seperti ini biasanya akan berlangsung pada musim kemarau. Dan berharap musim penghujan akan segera tiba agar orang-orang tak perlu lagi kesusahan untuk mencari air bersih dan selain itu juga orang disini bisa punya harapan besar untuk bisa bercocok tanam kembali disawah. Dengan hujan tiba maka berkah kebahagiaan juga akan menyertainya.

Dilain sisi saat musim penghujan telah tiba, banyak orang sekitar jembatan ini yang sudah mempersiapkan untuk bercocok tanam. Mulai dari mencari bibit padi dengan kualitas yang baik sampai dengan mencari orang yang akan siap tanam disawah masing-masing orang.

Saat hujan mulai datang secara terus menerus itu juga sudah menandakan bahwa tak ada lagi yang kekurangan air bersih karena pompa masing-masing rumah sudah bisa memenuhi kebutuhan air harian. Memang disini belum ada yang menggunakan air dari PDAM seperti layaknya diperkotaan. Karena memang jarak kami yang jauh dari pusat kota dan juga medan daerah kami disini yang masih sulit untuk dilalui. Seperti contohnya sungai pacal ini adalah medan yang harus dilalui dengan melewati Jembatan Gantung yang telah dibangun dengan pijakan dari kayu yang mulai lapuk.

Air disungai pacal juga hari demi hari sudah dialiri oleh air dan beberapa waktu juga sudah sering air yang mengalir dengan derasnya dan volume yang semakin tinggi.

Bila sore hari hingga malam nanti hujan akan terus mengguyur daerah sebelah selatan atau bagian hulu, maka sudah bisa dipastikan bahwa keesokan harinya akan ada air susulan atau limpahan dari sungai bagian hulu. Yang akibatnya sungai pacal akan meluap dan membanjiri seluruh tepi dan dilewatinya.

Rasa was-was sudah mulai dirasakan oleh orang-orang sekitar. Namun benar saja, saat dini hari suara derasnya air sungai sudah merebak ke telinga para tetangga. Keluar rumah dengan membawa senter adalah cara orang-orang melihat kondisi ketinggian air sungai pacal.

Tung….tung…tung…

Terdengar suara pentungan yang sengaja dibunyikan oleh bapak-bapak yang berjaga untuk.memberikan isyarat kepada seluruh warga bahwa air sudah mulai meninggi dan mulai naik ke jalan. Dan diharapkan warga sudah bisa bersiap-siap untuk berjaga-jaga.

Jika sudah ada pengumuman seperti ini, orang-orang sekitar tepi sungai pacal termasuk sekitar Jembatan Gantung sudah jarang yang bisa tidur. Mereka memilih berjaga dan bahkan mereka berjaga didepan rumah masing-masing untuk melihat perkembangan kondisi air yang diperkirakan akan banjir.

Kembali bapak-bapak memukul pentungan yang ada dipos jaga.

Tung… Tung… Tung..

Namun kali ini diikuti dengan pemberitahuan yang jelas.

Banjir… Banjir… Banjir…

Dengan membubuhi kata banjir akan memperingatkan kepada warga bahwa ini sudah masuk siaga. Yang memang jelas air sudah melewati batas, yaitu air melangkah melewati jalan dan berjalan kesegala penjuru arah untuk mencari lokasi yang memang dataran rendah.

Saat mentari mulai terlihat malu-malu dan menyembunyikan sinarnya dibalik awan yang tebal, maka sudah terlihat hamparan air yang berwarna cokelat sudah menutupi tanah dan juga jalanan.

Air setinggi lutut orang dewasa sudah menutup halaman depan rumahku. Sehingga tak memungkinkan untuk aku bisa keluar dari rumah karena kondisi sudah terkepung oleh banjir.

Jika bagi orang lain banjir akan menciptakan kegalauan namun berbeda dengan orang-orang disini bahkan para anak kecil. Sebab apa anak kecil akan dengan puasnya disertai tawa lepas akan bermain dengan air banjir dan berlarian kesana dan kemari.

Hal ini memang terdengar agak membuat orang tua was-was dan juga akan membahayakan anak- anak itu sendiri, tetapi faktanya hal ini justru menjadi hiburan tersendiri bagi orang sekitar jembatan ini. Dilahirkan dan dibesarkan didaerah ini adalah menjadi suatu yang biasa bila harus bersahabat akrab dengan banjir. Karena setiap tahun banjir memang selalu berkunjung kesini dan kami hanya bisa menyapa dengan rendah hati.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi seharusnya sudah waktunya masuk sekolah untuk anak-anak yang sekolah. Namun apa boleh dikata, jika banjir sudah naik ke jalan maka itu artinya sekolah libur. Memang bukan sekolah yang meliburkan, namun anak-anak disini yang menganggap bahwa sekolah libur karena menang mereka tak bisa menerjang banjir yang deras. Apalagi bila jalan yang mereka lewati airnya dalam.

Gedung Sekolah Dasar yang terdekat pun halamannya sudah tak nampak, masjid besarpun lantainya sudah terlihat penuh air, balai desa seperempat tiang depannya sudah tak nampak karena banjir.

Banyak rumah yang masih tergenang oleh banjir, karena memang semakin rendah datarannya akan menjadi tempat berkumpulnya banjir. Semua orang hanya bisa berdiam dirumah dan beberapa sengaja keliling untuk melihat kondisi banjir ditempat yang lainnya.

Seharusnya pagi ini aku juga harus pergi ke tempat kerjaku, namun untuk bisa melewati jalan hingga sampai ke area yang aman banjir, aku harus naik ke alat transportasi saat banjir yaitu ‘gledekan’ hehhehe. Terdengar aneh mungkin ya tetapi ini memang yang paling aman. Motor beserta orangnya akan dinaikkan dan diangkut dengan ‘gledekan’ ini oleh anak-anak muda laki-laki untuk bisa melewati banjir dan menuju area yang aman banjir biasanya sampai jalan raya desa.

Untuk bisa diangkut dengan aman oleh ‘gledekan’ ini cukup membayar 10.000 saja, maka kita akan sampai dengan aman dan selamat tanpa basah-bahasan oleh air banjir.

Nah bagaimana kondisi Jembatan Gantung yang jelas dilalui oleh air sungai yang amat derasnya? Apakah baik-baik saja?

Benar, Jembatan Gantung ikut diterjang oleh air sungai yang melewatinya. Dengan arus yabg deras maka bagian tengah jembatan terendam oleh air sungai dan banyak orang yang memilih putar balik saat hendak melewati jembatan. Karena kondisi arus yang begitu deras dan dalam serta jembatan yang mulai termakan oleh ketinggian air sehingga memupuskan keberanian orang-orang yang akan melewatinya.

Bila waktu mulai siang, air pun perlahan akan surut dengan meninggalkan jejak garis dari ketinggian air tadi pagi. Memang banjir yang melanda desaku ini termasuk banjir bandang, jadi hanya akan bertahan beberapa jam saja. Karena arus air begitu deras maka banjir juga akan semakin cepat surut. Meskipun meninggalkan bekas dengan jejak lumpur, namun kami masih tetap bersyukur akan kenikmatan dapat tetap terjaga dalam kondisi yng sehat dan tak akan berberat hati untuk membersihkan bekas banjir ini.

Yang terpenting adalah ada senyum yang terukir dibibir mungil anak-anak saat bisa berenang dan menikmati libur sekolahnya bersama ramahnya air banjir yang tadi menyapa.

Semoga kita selalu sehat, dan selalu bersyukur akan nikmat.