IMG-20191116-WA0002

Diabetes Semakin Viral

Hari Diabetes Sedunia 14 Nopember
Oleh : achmad budi karyono

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini Diabetes Mellitus begitu ‘populer’ dan ‘menyebar’ secara sporadis di seluruh dunia, tidak terkecuali di negeri kita tercinta ini. Kalau dahulu seakan diabet hanya ‘milik’ masyarakat menengah keatas bahkan ‘kasta’ tertentu, namun saat ini tersebar tidak pandang bulu di semua lapisan masyarakat.

Diabetes Mellitus (DM) tergolong dalam penyakit metabolik, tidak menular yang disebabkan oleh gangguan atau ketidak mampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Adanya peningkatan gula darah merupakan gejala umum yang tidak bisa terkontrol pada penderita diabetes dan akhirnya akan membawa ke dampak atau komplikasi yang lebih serius bagi tubuh. Ditinjau dari penyebabnya, DM terbagi menjadi dua tipe yakni, tipe 1 yang disebabkan faktor keturunan dan tipe 2 yang disebabkan gaya hidup. Secara umum, dari semua penderita diabetes di dunia terdapat sekitar 80% menderita diabetes tipe 2, dengan kata lain tidak melaksanakan pola hidup sehat.

Di Indonesia, angka kejadian DM mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai lebih dari 21 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu lebih dari 14%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu hampir 6%.

Dengan sedikit data seperti itu, sudah seharusnya kita meninghkatkan kewaspadaan terhadap DM terutama type 2 agar kualitas hidup masyarakat lebih baik. Momen peringatan Hari Diabetes Sedunia setiap tanggal 14 Nopember ini sebaiknya kita gunakan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat akan penyakit DM dimulai dari pencegahan, pengenalan gejala, pemahaman faktor risiko, hingga penanganan lebih lanjut. Dengan pemahaman upaya promotif hingga kuratif tersebut, diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian yang disebabkan DM.

Upaya preventif yang dapat dilakukan agar terhindar dari DM yakni dengan berbagai penyuluhan yang difokuskan agar memperhatikan gaya hidup, pola makan, dan kebiasaan berolahraga sehingga seluruh fungsi tubuh dapat berjalan dengan semestinya dan optimal. Selain itu, pantau juga gula darah secara rutin untuk deteksi awal dan upaya kuratif dini.

Pelaksanaan seperti ini sudah gencar dilakukan terutama sejak 3 tahun terakhir ini, seiring dengan kebijakan JKN dengan kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang dilaksanakan dihampir pelayanan kesehatan tingkat pertama. Prolanis yang banyak dilakukan dan banyak pesertanya adalah penyakit diabetes. Kegiatan itu sudah mencakup pemberian materi yang terkait dengan penyakit diabetes, senam diabetes atau senam ringan, pemeriksaan gula darah puasa, 2 jam setelah makan dan HbA1c serta diskusi seputar diabetes.

Begitu pentingnya peran penyakit ini karena sangat mempengaruhi angka produktivitas masyarakat dan membengkaknya anggaran , sehingga harus meningkatkan pemahaman masyarakat terkait diabetes. Dan respon masyarakat sangat baik terhadap diabetes ini, sehingga diharapkan komplikasi diabetes bisa ditekan. Dengan melaksanakan pola hidup sehat akan menjadi dasar terhindarnya hapir semua penyakit, termasuk pengaturan pola makan yang menjadi kunci utama diabetes ini. Semoga kita selalu sehat.