Bumi Kita di ‘Era’ Pandemi

oleh : dr achmad budi karyono
Tanggal 22 April disepakati oleh masyarakat internasional sebagai Hari Bumi. Dianggap perlu apalagi penting atau tidak, kita petik hikmahnya saja sebagai salah satu peringatan kepada kita semua tentang permasalahan yang terkait dengan bumi kita. Google pun memunculkan doodle Hari Bumi pada hari ini.
Kejadian yang hangat terkait dengan bumi kita adalah, terjadinya erupsi beberapa gunung berapi di beberapa tempat secara hampir berurutan yang lokasinya sederet, walau letusannya tidak mengalahkan bencana Pandemi global Covid-19 saat ini. Namun letusan gunung anak Krakatau di selat Sunda juga cukup mengkhawatirkan, mengingat anak gunung ini pernah menghebohkan dunia pada tahun 1883 silam.
Begitu juga letusan gunung Merapi yang merupakan ‘Mbahe’ gunung, karena terlalu seringnya meletus. Bahkan seakan memberi komando pada gunung berapi lainnya di deretan lingkaran cincin gunung berapi, khususnya sepanjang jalur lintas Sumatra dan Jawa.
Sudah begitu rapuhkan bumi yang kita tumpangi ini?
Semua kejadian alam diatas akan mempengaruhi lingkungan, ekosistem dan tentunya akan berinteraksi dengan kehidupan sebagian masyarakat, yang akhirnya juga berdampak bagi kesehatan. Kita memang kurang bisa ‘melawan’ kejadian atau bencana alam. Namun kita bisa berusaha untuk meminimalisir atau menjaga ‘kehidupan’ alam secara alamiah. Tidak membabat habis pohon di hutan, memburu binatang, menggali dan menguras isi perut bumi serta membakar lahan perdu.
Kita sudah banyak ‘berdosa’ kepada alam dengan melakukan atau melawan ‘SOP’ alam, sehingga tidak jarang alam begitu ‘marah’ kepada kita dengan menimpakan bencana. Manipulasi alam yang kurang dipertimbangkan akan bisa menimpa kita yang mengakibatkan bencana baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang.
Hari Bumi ini juga mengingatkan kita atas Prestasi Bojonegoro sebagai Pengelola Bencana Terbaik Nasional oleh BNPB pada tahun 2014. Suatu prestasi yang patut kita syukuri yang telah merubah Bojonegoro yang sebelumnya sebagai ‘kota banjir’, saat ini telah mandiri dalam mengatasi bencana banjir sehingga produksi pangan kian meningkat. Pembuatan ‘seribu’ Embung merupakan dan himbauan pembuatan Biopori merupakan upaya Pemerintahan Bojonegoro saat itu untuk ‘menyelamatkan’ bumi dari bencana yang dapat menimpa rakyatnya. Gerakan menanam ‘satu juta’ pohon serta ‘satu desa satu buah unggulan’ bisa mencegah banjir bandang serta bernilai ekonomis yang menguntungkan rakyat.

Inilah salah satu hikmah peringatan Hari Bumi, agar kita semua lebih waspada untuk memelihara bumi kita agar kita juga tetap ‘dipelihara’ bumi. Di sektor kesehatan, kalau kita memelihara bumi dalam hal ini lingkungan yang tetap alamiah dan higienis, kesehatan kita juga akan terjaga, sehingga masyarakat tetap sehat dan produktivitas akan meningkat. Kita harus selalu ingat pesan Allah SwT dalm QS Al Baqoroh 2:60 ” . . . . . . . Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan”.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)