hari lupus sedunia

Lupus Tergilas Covid-19

Oleh : dr achmad budi karyono

Hari ini 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus sedunia, sehingga sejenak kita menoleh dari cengkeraman Covid-19 terhadap ‘penyakit’ yang juga tergolong ‘ganas’ ini. Dan kita tetap peduli dengan ‘penyakit’ yang juga dijuluki ‘Penyakit Seribu Wajah’. Pada hari ini semua insan kesehatan dunia meningkatkan kepeduliannya terhadap penyakit Lupus ini, karena memang ‘sulit’nya menegakkan diagnose maupun pengobatannya.

Lupus merupakan ‘penyakit’ yang terkait dengan kekebalan tubuh manusia dan dikenal sebagai penyakit autoimmune merupakan anomali pada sistem dan kerja sel pertahanan tubuh manusia. Sel pertahanan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari masuknya kuman atau gangguan eksternal lainnya justru menyerang tubuh pemiliknya dan menjadi salah satu ‘penyakit’ yang mematikan.

Pengidap lupus akan mengalami serangan sel antibodi dari dalam tubuh sendiri. Pada bentuk yang sistemik (SLE), serangan lupus juga dapat memengaruhi organ dalam manusia yang vital, seperti kulit, jantung, paru, sendi, otak, ginjal, hati atau apapun. Lupus ini dinilai paling berbahaya dibandingkan dengan jenis lainnya. Lupus neonatal pada bayi biasanya akan hilang pada selang waktu tertentu. Sementara lupus yang timbul akibat penggunaan obat akan hilang saat reaksi obat hilang dari tubuh.

Lupus lebih banyak diderita wanita daripada pria dengan perbandingan 9:1, karena faktor hormonal dan biasanya menjangkiti wanita muda usia 15-50 tahun (usia produktif). Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa lupus juga dapat menyerang anak-anak dan pria. Penderita lupus di dunia diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta jiwa. Menurut data dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI), jumlah penderita lupus di Indonesia pada tahun 2012 mencapai  lebih dari 12 ribu jiwa dan meningkat menjadi sekitar 14 ribu jiwa pada tahun 2013. Penyakit ini sulit ditebak atau suka menyaru sebagai penyakit lain, sehingga seringkali dokter menyangka penyakit lainnya, tetapi yang tersering adalah adanya nyeri sendi. Saat ini tes untuk menentukan positif atau negatif atas lupus telah ada di banyak laboratorium klinik.

Penyakit lupus ditengari dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal tubuh manusia dan lingkungan. Secara umum, faktor penyebab pasti timbulnya penyakit lupus belum diketahui.

Faktor internal disebabkan oleh faktor genetika yang menyebabkan adanya kecenderungan anomali pada sistem antibodi yang menyerang bagian-bagian jaringan tubuh. Karena itu, penyakit lupus sering diidentikkan dengan penyakit turunan. Tetapi Lupus bukanlah ‘penyaki’ herediter atau factor keturunan. Penyebab eksternal lupus terkait erat dengan gaya hidup dan kondisi manusia. Faktor eksternal berarti serangkaian atau satuan penyebab yang merangsang reaksi zat antibodi yang akhirnya menyerang jaringan tubuh. Beberapa penyebab eksternal lupus, antara lain stress berlebihan, penggunaan obat antibiotik yang tidak terkendali, sinar ultraviolet matahari ataupun lampu, dan obat-obatan berbahan dasar sulfa.

Meski gejala SLE bervariasi, ada tiga gejala utama yang umumnya selalu muncul, antara lain:

Rasa lelah yang ekstrem,inilah gejala paling umum pada SLE yang sering dikeluhkan para penderita. Rasa lelah yang ekstrem sangat mengganggu dan menghambat aktivitas. Banyak penderita yang menyatakan bahwa gejala ini merupakan dampak negatif terbesar dari SLE dalam kehidupan mereka. Melakukan rutinitas sehari-hari yang sederhana, misalnya tugas rumah tangga atau rutinitas kantor, dapat membuat penderita SLE sangat lelah. Rasa lelah yang ekstrem tetap muncul bahkan setelah penderita cukup beristirahat.

Ruam pada kulit, yang menjadi ciri khas SLE adalah ruam yang menyebar pada batang hidung dan kedua pipi. Gejala ini dikenal dengan istilah ruam kupu-kupu (butterfly rash) karena bentuknya yang mirip sayap kupu-kupu, bagian tubuh lain yang mungkin ditumbuhi ruam adalah tangan dan pergelangan tangan. Ruam pada kulit akibat SLE dapat membekas secara permanen dan bertambah parah jika terpapar sinar matahari akibat reaksi fotosensitivitas.

Nyeri pada persendian, gejala ini umumnya muncul pada persendian tangan dan kaki penderita. Rasa nyeri juga mungkin dapat berpindah dengan cepat dari sendi satu ke sendi lain. Tetapi SLE umumnya tidak menyebabkan kerusakan atau cacat permanen pada persendian. Itulah yang membedakan SLE dengan penyakit lain yang juga menyerang persendian.

Gejala-gejala Lain yang Mungkin Menyertai penderita SLE, Sariawan yang terus muncul, Demam tinggi (38ºC atau lebih), Tekanan darah tinggi, Pembengkakan kelenjar getah bening, Sakit kepala hebat, Rambut rontok, Mata kering, Sakit dada, Hilang ingatan, Napas pendek akibat inflamasi paru-paru, dampak ke jantung, atau anemia, Tubuh menyimpan cairan berlebihan sehingga terjadi gejala seperti pembengkakan pada pergelangan kaki, Jari-jari tangan dan kaki yang memutih atau membiru jika terpapar hawa dingin atau karena stress.

Jenis-jenis Tes Darah yang Digunakan belum dapat menunjukkan akurasi tentang ‘penyakit’ ini, karena kesamaan atau kemiripan dengan banyak penyakit lain Begitu juga mengenai pengobatan, belum ada obat yang spesifik untuk ‘penyakit’ Lupus ini. Hanya beberapa obat yang memperbaiki keadaan atau stamina tubuh dan meredakan keluhan saja, namun ‘penyakit’nya tetap berjalan terus. Jadi satu satunya obat yang paling mujarab adalah berdoa kepada Allah SwT agar diberikan yang terbaik bagi penderita. Oleh karena ‘penyakit’ Lupus ini cukup mengacau psikis atau jiwa pengidapnya, sehingga sudah sepantasnya kita bantu paling tidak dengan meningkatkan kepedulian pada mereka.

Semoga kita selalu sehat.