Terlihat

Terjaga dari Kelalaian

Oleh : Rohmah HN

Ketika musibah menimpa, yang baik dan yang buruk memiliki peran yang sangat penting. Terlebih
jika hambanya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT Maha lembut terhadap hamba-Nya
dan menghendaki kemudahan atasnya. Dia Maha bijaksana, Mahatahu, dan telah menyiapkan
balasan yang baik di akhirat, serta akan memberikan ganjaran yang cukup bagi mereka yang bersabar.

Ujian tekanan hidup adalah bagian dari raga dan jiwa untuk memperkuat agar tetap hidup dan selalu
hidup. Rasa sifat sabar mungkin bergejolak karena nafsu dan ego yang sulit terbendung. Bila sifat
sabar yang dikelola dan dijaga dengan baik hasilnya akan memberikan kebahagiaan pada diri dan
sekelilingnya kenapa tidak???.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui agar musibah terasa ringan yaitu :
1. Melihat musibah orang yang lebih besar dari kita dengan melihat dampak dari pandemi dan
keluarga yang ditinggalkan.
2. Melihat nikmat yang diberikan Allah SWT kepadamu yang tidk dimiliki orang lain.
3. Tidak menyerah kepada kegagalan yang terkadang datang bersama musibah yang lain.
“ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya bersama kesusahan ada
kemudahan. Q.S Al. Insyirah : 5-6

Motivasi yang sangat luar biasa dari al Qur’an surat al Insyirah ini yang memberikan dasar selalu
bertahan walau badai ujian dan tekanan menghadang dan terus melangkah tanpa batas karena yakin
bahwa Allah SWT akan mendampingi hamba-Nya dimanapun berada dan tak perlu ragu terhadap
kuasa-Nya. Karena semangat adalah kehidupan yang menciptakan kebahagiaan, umat Islam
diajarkan ajaran yang sangat lengkap dan sempurna yang memberikan aturan-aturan dalam
menaungi dunia dan kehidupan setelahnya. Pedoman hidup ajaran agama umat Islam yang tak
perlu diragukan melaksanakan keyakinan, akhlak, etika, norma, ekonomi, dalam Al Qur’an dan
disempurnakan lagi dengan as-sunnah, yang diperankan dalam kehidupan Nabi dan Rasulullah
Muhammad SAW.
Bertubi dan lamanya musibah membuat kelalaian dalam mendekatkan diri kepada penguasa alam
raya ini. Karena dari kelalaian yang paling kecil menjadi sebab akibat dari bencana yang tiada henti,
karena kelalaian adalah menjauhkan diri dari mengingat Allah SWT, meninggalkan sholat, berpaling
dari Al-Qur’an, dan enggan dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Ini merupakan sebuah awal dari
kelalaian sehingga menjadikan hati keras dan membatu, tak tahu lagi kebaikan, mendukung
kemungkaran sehingga berakibat sedikit pemahaman agama dan dalam menjalankan perintah
agama yang dianut.
Dari kelalaian inilah menjadikan mudah sedih, mudah mengeluh dan mudah berputus harapan.
Seperti hidup hanya untuk dunia tanpa memikirkan kehidupan setelahnya, bila kita memikirkan
kehidupan setelah didunia tentunya menghindari kelalaian dan semangat untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT yaitu membasahi bibir dengan menyebut Allah SWT dengan membaca tasbih,
tahlil, takbir, tahmid, istighfar dan shalawat di setiap waktu. Hal tersebut bisa dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk, maupun tidur. Kelalaian pun sirna, kesehatan dan kebahagiaanpun di dapat yang akan meliputi hati kita. Ini adalah pengaruh dari dzikir. “Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)

Semoga kita selalu sehat.

Cepu, 30 Juni 2020